AS Akui Kesalahan Fatal dalam Tabrakan Maut di Langit Washington

- Kamis, 18 Desember 2025 | 08:40 WIB
AS Akui Kesalahan Fatal dalam Tabrakan Maut di Langit Washington

Pemerintah Amerika Serikat akhirnya mengakui kesalahannya. Mereka bertanggung jawab penuh atas tabrakan maut yang merenggut 67 nyawa di Washington DC awal tahun ini. Pengakuan mengejutkan ini muncul dari tumpukan berkas gugatan perdata yang diajukan ke pengadilan.

Menurut laporan AFP, Departemen Kehakiman AS menyampaikan dokumen setebal 209 halaman. Ini adalah bagian dari gugatan keluarga salah satu penumpang pesawat yang tewas, yang menuntut pemerintah dan maskapai terkait.

"Amerika Serikat mengakui bahwa mereka memiliki kewajiban untuk berhati-hati terhadap Penggugat, yang telah dilanggar, sehingga secara langsung menyebabkan kecelakaan tragis tersebut,"

Begitu bunyi pengakuan resmi dalam dokumen itu, seperti dilansir Kamis (18/11/2025). Sebuah pernyataan yang jelas dan tanpa basa-basi.

Musibahnya terjadi tanggal 29 Januari lalu. Saat itu, sebuah pesawat American Eagle dari Wichita, Kansas, sedang bersiap mendarat di Bandara Nasional Ronald Reagan. Tiba-tiba, dari arah yang sama, sebuah helikopter militer Black Hawk milik Angkatan Darat AS menghantam tubuh pesawat. Keduanya kemudian terjatuh bebas, menghujam permukaan Sungai Potomac yang dingin.

Bencana ini tercatat sebagai kecelakaan penerbangan komersial paling mematikan di AS dalam kurun waktu puluhan tahun. Guncangannya langsung terasa, memaksa otoritas bandara menerapkan protokol keselamatan yang jauh lebih ketat.

Di sisi lain, dalam dokumen pengadilan, pemerintah mengakui bahwa risiko tabrakan di udara "tidak mungkin bisa dihilangkan seratus persen" di wilayah udara sekitar Bandara Reagan. Namun begitu, pengakuan utama justru terletak pada kesalahan pilot.

Pemerintah menyatakan pilot Angkatan Darat di Black Hawk gagal menjaga kewaspadaan. Mereka dinilai lalai melihat dan menghindari pesawat lain, sebuah kegagalan yang disebut sebagai penyebab utama dan langsung dari tragedi ini. Tidak hanya itu, berkas itu juga menyorot kinerja pengawas lalu lintas udara di menara bandara yang disebut "tidak mematuhi" aturan federal.

Sebelumnya, investigasi pendahuluan dari Dewan Keselamatan Transportasi Nasional (NTSB) sudah memberi sinyal. Mereka menyoroti instrumen yang rusak dan masalah komunikasi yang kacau sebagai faktor pendukung. Peringatan dari menara kendali ke helikopter tentang kehadiran jet ternyata tidak terdengar jelas. Belum lagi instruksi penting untuk membelokkan helikopter, yang juga tidak sampai, sesaat sebelum benturan terjadi.

Sayangnya, investigasi lengkap NTSB masih berjalan dan bisa memakan waktu hingga setahun. Laporan finalnya pun masih harus ditunggu.

Korban jiwa dari peristiwa mengerikan ini akhirnya berjumlah 67 orang. Rinciannya, 64 penumpang dan awak di pesawat komersial, ditambah tiga prajurit AS yang berada di dalam helikopter UH-60 Black Hawk. Sebuah angka yang menyisakan duka mendalam.

"Pada titik ini kami tidak yakin ada yang selamat,"

Ucap Kepala Pemadam Kebakaran Washington, John Donnelly, dengan wajah muram dalam konferensi pers di dekat lokasi kejadian saat itu. Sebuah pernyataan yang mengkonfirmasi kekhawatiran terburuk semua orang.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar