Rabu kemarin, kabar baik datang dari Negeri Sakura. Jepang berhasil membukukan surplus perdagangan yang cukup signifikan, tepatnya 322,3 miliar yen atau kalau dirupiahkan sekitar Rp 35 triliun. Angka untuk November 2025 ini jelas jadi sinyal positif.
Yang menarik, ini bukan cuma soal angka surplus semata. Pencapaian ini, seperti dilaporkan Xinhua, semakin mengeraskan keyakinan banyak pengamat. Mereka yakin Bank Sentral Jepang (BOJ) bakal angkat bicara dengan menaikkan suku bunga akhir pekan ini.
Memang, kinerja ekspor mereka lagi bagus-bagusnya. Sudah tiga bulan beruntun, nilai ekspor Jepang terus merangkak naik. Untuk November saja, angkanya melonjak 6,1 persen dibanding tahun sebelumnya. Di sisi lain, pertumbuhan impor ternyata lebih pelan dari yang diduga, cuma 1,3 persen. Ini tentu bantu memperlebar selisihnya.
Namun begitu, jalan menuju titik ini enggak mulus. Kita masih ingat, ekonomi Jepang sempat terpuruk di kuartal ketiga. Ekspor waktu itu melemah, salah satunya gara-gara ancaman tarif dari AS yang bikin semua orang waswas.
Suasana mulai berubah setelah September. AS dan Jepang akhirnya bersepakat, memformalkan perjanjian dagang yang cukup meredakan ketegangan. Tarif untuk hampir semua barang impor AS dari Jepang dipatok di angka dasar 15 persen.
Angka itu jauh lebih rendah ketimbang wacana awal, yang sempat mengusung tarif 27,5 persen untuk mobil dan 25 persen untuk banyak barang lain. Bayangkan saja.
Dengan ketidakpastian tarif yang mulai menghilang, ruang gerak BOJ jadi lebih leluasa. Mayoritas pasar sekarang memprediksi bank sentral akan bertindak. Mereka diperkirakan akan menaikkan suku bunga kebijakan jangka pendek dari 0,5 persen menjadi 0,75 persen dalam pertemuan akhir pekan ini.
Tapi hati-hati, ini bukan akhir cerita. Soal seberapa cepat dan tinggi kenaikan suku bunga ke depannya, itu masih jadi teka-teki. Semuanya masih belum pasti.
Artikel Terkait
Rusia Peringatkan Ketegangan AS-Iran Bak Bom Waktu
Krakatau Osaka Steel Tutup April 2026, Tertekan Banjir Baja Impor Murah China
Inggris Luncurkan Program Akselerator Pendanaan Iklim di Indonesia
Menperin Soroti Pertumbuhan Manufaktur Tembus 5,17%, Ungguli Ekonomi Nasional