Krakatau Osaka Steel Tutup April 2026, Tertekan Banjir Baja Impor Murah China

- Kamis, 05 Februari 2026 | 12:50 WIB
Krakatau Osaka Steel Tutup April 2026, Tertekan Banjir Baja Impor Murah China

MURIANETWORK.COM - PT Krakatau Osaka Steel (KOS), perusahaan patungan antara PT Krakatau Steel dan Osaka Steel Jepang, akan menghentikan operasi pabriknya di Indonesia pada April mendatang. Keputusan penutupan ini disampaikan langsung oleh Direktur Utama Krakatau Steel, Akbar Djohan, dalam rapat dengan Komisi VI DPR, Rabu (4/2/2026). Penyebab utamanya adalah tekanan berat dari membanjirnya baja impor murah dari China, yang membuat produk lokal kalah bersaing akibat struktur biaya produksi yang tinggi.

Tekanan Impor dan Efek Domino Penutupan Pabrik

Lanskap industri baja nasional tengah menghadapi tantangan berat. Akbar Djohan menjelaskan bahwa gempuran produk impor berharga rendah telah membuat sejumlah pabrik dalam negeri tak lagi mampu bertahan. KOS bukanlah korban pertama. Sebelumnya, pabrik Ispatindo di Surabaya juga telah mengambil langkah serupa untuk menghentikan produksinya.

"Dan ini sudah tidak dapat bersaing dengan maraknya impor long product baja murah dari China," ungkapnya.

Strategi China: Dari Ekspor ke Relokasi Pabrik

Menurut analisis yang disampaikan Akbar, tekanan terhadap industri baja lokal tidak lagi hanya berasal dari arus impor barang jadi. Dalam satu dekade terakhir, terjadi pergeseran strategi dimana produsen asing, khususnya China, melakukan relokasi pabrik langsung ke dalam negeri. Pabrik-pabrik ini dibekali dengan teknologi tertentu yang memungkinkan skala produksi besar.

"China bukan lagi hanya mengimpor barangnya tetapi melakukan relokasi pabrik China di Indonesia yang sudah berlangsung 10-12 tahun sebelumnya dengan menggunakan teknologi induction furnace," kata Akbar.

Ekspansi ini, lanjutnya, turut dipicu oleh banyaknya proyek infrastruktur dan program prioritas pemerintah yang membutuhkan pasokan baja besar. Ironisnya, geliat pembangunan nasional justru dimanfaatkan oleh pemain asing yang memiliki keunggulan kapasitas dan teknologi, semakin mempersempit ruang gerak produsen dalam negeri.

Lima Rekomendasi untuk Menyelamatkan Industri Baja Nasional

Dalam situasi yang memprihatinkan ini, Krakatau Steel mendesak pemerintah untuk segera mengambil langkah-langkah konkret. Perusahaan BUMN tersebut mengajukan setidaknya lima rekomendasi kebijakan yang diharapkan dapat menjadi penopang bagi industri baja nasional.

Rekomendasi pertama adalah menetapkan Krakatau Steel sebagai penyedia tunggal (one stop service) untuk pemenuhan baja seluruh proyek strategis nasional. Kedua, pemerintah didorong untuk mempercepat pengenaan bea masuk anti-dumping (BMAD), bea masuk imbalan, serta tindakan pengamanan (safeguard) terhadap produk impor yang dinilai tidak sehat.

Rekomendasi ketiga menyasar transformasi tata niaga impor besi dan baja. Tujuannya adalah menciptakan keseimbangan antara pasokan dan permintaan yang berkelanjutan, dengan pengaturan impor yang benar-benar selaras dengan kebutuhan riil di dalam negeri, bukan sekadar membanjiri pasar.

Selanjutnya, optimalisasi penerapan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN) dalam setiap proyek pemerintah dinilai krusial untuk menciptakan pasar yang pasti bagi produsen lokal. Terakhir, cakupan pemberlakuan Standar Nasional Indonesia (SNI) wajib perlu diperluas. Langkah ini tidak hanya untuk menjamin kualitas produk yang beredar, tetapi juga menjadi benteng perlindungan bagi pasar domestik dari barang-barang yang tidak memenuhi standar.

Nasib ribuan tenaga kerja dan ketahanan industri strategis nasional kini berada di persimpangan, menunggu respons dan kebijakan yang tepat dari para pemangku kepentingan.

Komentar