IATA Proyeksikan Laba Maskapai Global Tembus Rp 660 Triliun di Tengah Tantangan

- Sabtu, 13 Desember 2025 | 19:15 WIB
IATA Proyeksikan Laba Maskapai Global Tembus Rp 660 Triliun di Tengah Tantangan

Industri penerbangan global lagi-lagi menunjukkan tanda-tanda kebangkitan yang cukup menggembirakan. Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) baru saja merilis laporan terbaru yang memprediksi laba maskapai di seluruh dunia bakal menyentuh angka fantastis: USD 39,5 miliar atau sekitar Rp 660 triliun untuk tahun ini. Angka itu jauh lebih optimis ketimbang estimasi awal yang 'hanya' USD 36 miliar.

Tak cuma soal profit, volume penumpang pun diproyeksikan naik. Tahun depan, maskapai diperkirakan akan mengangkut 4,98 miliar orang. Bandingkan dengan tahun lalu yang tercatat 4,77 miliar penumpang. Data ini dilansir AFP pada Sabtu lalu, 13 Desember 2025, langsung merujuk pada laporan resmi IATA.

Ngomong-ngomong soal IATA, asosiasi ini anggotanya sekitar 360 maskapai. Kumpulan mereka mewakili 80 persen dari total lalu lintas udara di dunia. Jadi, prediksinya bisa dibilang cukup akurat untuk jadi gambaran.

Di tengah optimisme angka-angka tadi, tantangan yang dihadapi industri ini nyatanya nggak sedikit. Willie Walsh, Direktur Jenderal IATA, mengakui hal itu.

"Peningkatan kinerja ini merupakan kabar baik mengingat hambatan yang dihadapi industri ini," ujar Walsh.

Ia lalu merinci sederet masalah. Mulai dari biaya operasional yang melambung karena kemacetan rantai pasokan di sektor kedirgantaraan, situasi geopolitik yang memanas, sampai perdagangan global yang lesu. Belum lagi beban regulasi yang makin bertambah setiap tahunnya.

Namun begitu, Walsh melihat ada ketahanan yang dibangun oleh para maskapai. Mereka berhasil menyerap berbagai guncangan itu ke dalam model bisnis mereka. Alhasil, profitabilitas bisa tetap stabil.

Walsh juga mengaitkan prospek cerah ini dengan kinerja angkutan udara yang ternyata lebih baik dari perkiraan. Ini terjadi meski ada sengketa perdagangan yang dipicu kebijakan tarif dari Amerika Serikat.

"Maskapai penerbangan telah berhasil membangun ketahanan yang mampu menyerap guncangan ke dalam bisnis mereka, yang menghasilkan profitabilitas yang stabil," tegasnya.

Jadi, meski awan mendung masih ada di cakrawala mulai dari biaya sampai konflik industri penerbangan sepertinya sedang belajar untuk terbang lebih lincah menghadapi turbulensi. Prediksi triliunan rupiah tadi jadi secercah harapan yang cukup terang.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler