Di Balik Klaim Sehat: Menguak Tipuan Tersembunyi dalam Makanan Olahan

- Sabtu, 13 Desember 2025 | 15:00 WIB
Di Balik Klaim Sehat: Menguak Tipuan Tersembunyi dalam Makanan Olahan

Akibatnya, tanpa sadar kita bisa melampaui batas aman konsumsi gula harian WHO yang cuma 25 gram (sekitar 4-5 sendok teh).

Dampaknya nyata. Survei SKI 2023 mengaitkan kebiasaan minum manis kemasan dengan prevalensi diabetes tipe 2 di Indonesia yang mencapai sekitar 11,7%. Janji ‘sehat’ di label ternyata tak sebanding dengan risiko yang mengintai.

Aturan Emas Membaca Daftar Bahan

Saya punya teman yang diabetes. Ia sangat hati-hati, terutama saat memilih bumbu instan. Suatu kali, ia hampir tertipu oleh kemasan yang menampilkan gambar rempah segar nan alami. “Pasti aman,” pikirnya.

Tapi begitu kemasan dibalik, kenyataannya lain. Garam, MSG, dan gula justru menempati posisi kedua dan ketiga dalam daftar komposisi, jauh di atas rempah asli yang dijadikan ikon.

Kisah ini mengajarkan satu hal: daftar komposisi adalah sumber informasi paling jujur. Aturan dasarnya sederhana: bahan disusun berdasarkan jumlahnya. Yang paling banyak, ada di urutan pertama.

Jadi, kalau gula atau pemanis lain seperti maltodekstrin ada di tiga besar, waspadalah. Itu bisa jadi ‘bom gula’ tersembunyi. Kemampuan membaca daftar ini krusial, apalagi banyak produk impor yang kerap melanggar aturan pelabelan.

Literasi Label: Vaksin untuk Konsumen

Lalu, apa solusinya? Karena pemahaman masyarakat masih rendah, semua pihak harus turun tangan.

Pemerintah dan BPOM perlu didorong untuk menerapkan regulasi pelabelan yang lebih tegas dan mudah dimengerti. Misalnya, dengan mempertimbangkan Label GGL Depan Kemasan (LGDK) atau label peringatan bergambar.

Penelitian membuktikan, simbol atau lambang sederhana jauh lebih efektif daripada deretan angka. Pesannya lebih cepat dicerna. Contohnya bisa dilihat di Cile dan Meksiko, yang sukses menerapkan label peringatan hitam oktagonal. Pola belanja masyarakat bergeser ke pilihan lebih sehat, dengan pemahaman konsumen meningkat hingga 40%.

Di dalam negeri, langkah BPOM sejak 2019 dengan logo “Pilihan Lebih Sehat” patut diapresiasi. Namun begitu, cakupannya masih perlu diperluas ke semua produk olahan tinggi GGL, tidak hanya kategori tertentu, agar dampaknya lebih sistemik.

Meski regulasi penting, kita sebagai konsumen tak bisa hanya pasif. Literasi dimulai dari diri sendiri. Jangan mudah tergoda klaim di depan kemasan. Biasakan untuk membalik, membaca, dan membandingkan. Karena pada akhirnya, kendali atas kesehatan ada di piring dan pilihan kita sendiri.


Halaman:

Komentar