Dampaknya jelas bukan cuma soal rasa takut. Dari segi ekonomi, kerugiannya luar biasa. Mark Prosser, salah satu peneliti, menyebut industri penerbangan AS bisa merugi ratusan juta dolar per tahun akibat gangguan operasional dan keausan pesawat yang dipercepat oleh turbulensi.
Belum lagi risiko keselamatan penumpang. Data NTSB mencatat, sejak 2009 hingga pertengahan 2025, ada 207 kasus penumpang yang harus dirawat inap minimal dua hari akibat cedera serius dari guncangan di udara.
Masa Depan yang Lebih 'Bergelombang'
Lalu, seberapa buruk kondisi nantinya? Paul Williams, ilmuwan atmosfer yang terlibat dalam penelitian, memberikan gambaran yang suram.
“Kita bisa melihat peningkatan dua hingga tiga kali lipat turbulensi parah di seluruh dunia dalam beberapa dekade mendatang,” katanya kepada BBC.
“Bayangkan, jika sekarang Anda mengalami 10 menit guncangan hebat, di masa depan durasinya bisa membengkak jadi 20 atau 30 menit.”
Memang, tidak setiap turbulensi akan berakhir dengan bencana. Namun, pengalaman terbang kita pasti akan berubah. Tanda sabuk pengaman akan lebih sering menyala, layanan kabin lebih banyak terhenti, dan maskapai dipaksa berburu teknologi pendeteksi dini yang lebih canggih.
Intinya, perjalanan udara ke depan mungkin tak akan pernah semulus dulu lagi. Kita harus bersiap.
Artikel Terkait
Jetty Indramayu: Gerbang Rahasia yang Menyalurkan Energi ke Jantung Jawa
Ammar Zoni Protes Penempatan di Nusakambangan: Saya Bukan Penjahat Besar
No Na Rilis Work (+62), Video Musik yang Sorot Kekuatan Fisik dan Tarian
Banjir Longsor Cisarua, BRI Bergerak Cepat Bantu Korban dan Trauma Healing