"Banyak konsumen, terutama dari kalangan rumah tangga berpenghasilan menengah ke bawah, benar-benar kesulitan. Masalah keterjangkauan ini memaksa mereka untuk ekstra hati-hati dan cenderung hanya membeli barang berdasarkan harga murah," ujar Kathy Bostjancic, Kepala Ekonom di Nationwide.
Fakta bahwa belanja konsumen yang menyumbang lebih dari dua pertiga aktivitas ekonomi hanya naik 0,3 persen patut dicermati. Angka itu pun lebih rendah dari revisi kenaikan Agustus yang sebelumnya tercatat 0,5 persen, berdasarkan data Biro Analisis Ekonomi. Jadi, kenaikan belanja itu lebih mencerminkan harga yang melambung, khususnya untuk bensin dan energi, bukan karena kita semua jadi lebih royal berbelanja.
Di sisi lain, sektor lain justru lesu. Pengeluaran untuk mobil, barang rekreasi, dan produk manufaktur lainnya malah tercatat turun. Begitu pula dengan belanja untuk pakaian dan alas kaki. Intinya, jika dirata-ratakan, pengeluaran untuk barang-barang secara keseluruhan bisa dibilang stagnan tidak berubah.
Jadi, gambaran besarnya begini: ekonomi mungkin tampak bergerak, tapi di balik angka itu ada tekanan inflasi dan konsumen yang semakin terjepit.
Artikel Terkait
KPK Naikkan Batas Lapor Gratifikasi, Aturan untuk Rekan Kerja Dirombak
Modal Minim, Tantangan Berat yang Membelit Bank Syariah
Harga Pangan Meroket, Bawang hingga Cabai Tembus Angka Tertinggi
Lepas Sasar Jualan Satu Juta Mobil Listrik, Indonesia Jadi Pilar Utama