Pemulihan jaringan telekomunikasi di Aceh pasca-banjir dan longsor ternyata tak semudah yang dibayangkan. Kendala utamanya? Listrik. Suplai daya yang belum stabil membuat proses perbaikan berjalan tersendat.
Wakil Menteri Komunikasi dan Informatika, Nezar Patria, mengungkapkan hal itu pada Jumat lalu. Menurutnya, mayoritas Base Transceiver Station (BTS) sebenarnya selamat dari terjangan banjir.
“Problem utama kita adalah suplai listrik. Nah kalau suplai listrik sudah normal, Insya Allah BTS bisa berfungsi seperti sediakala,” jelas Nezar.
Dari ribuan BTS yang ada, baru sekitar separuhnya yang bisa kembali aktif. Sisanya masih gelap. Untuk mengakalinya, sejumlah menara terpaksa dihidupkan dengan genset. Tapi solusi ini punya batasan. Mesin genset tidak bisa dipaksa bekerja non-stop 24 jam; butuh jeda agar tidak cepat rusak.
Di sisi lain, ketergantungan pada genset ini otomatis menyeret masalah lain: pasokan Bahan Bakar Minyak (BBM) harus lancar. Nezar menyebut, pemerintah sudah berkoordinasi dengan Pertamina. Tujuannya agar wilayah-wilayah kritis mendapat prioritas, sehingga cadangan BBM untuk seluruh Aceh tetap aman.
“Menurut laporan Pertamina, suplai terus berjalan, baik melalui jalur laut maupun darat. Ini terus menjadi perhatian kami agar distribusinya tidak terputus,” tambahnya.
Sambil menunggu jaringan listrik pulih total, pemerintah juga mendatangkan bantuan teknologi. Sebanyak 20 unit Starlink telah disalurkan ke berbagai kabupaten terdampak. Enam unit, misalnya, sudah sampai di Aceh Tamiang dengan bantuan kapal SAR.
Pengirimannya memang bertahap. Tiga unit untuk Aceh Tengah masih di perjalanan. Begitu pula dengan kiriman untuk Gayo Lues dan Aceh Tenggara. Sementara itu, Bener Meriah mendapat tiga unit plus dua unit lagi yang sedang dikirim.
Daerah seperti Pidie Jaya dapat satu unit Starlink, dengan tambahan dua unit lagi untuk memperkuat sinyal. Bireuen juga kebagian satu unit yang langsung dialokasikan untuk kebutuhan mendesak di sana.
Lhokseumawe mendapat jatah dua unit. Namun, perangkat ini rencananya akan dibawa lebih jauh lagi.
“Selanjutnya akan dibawa ke Lokop melalui bantuan Danrem Lilawangsa. Lokop ini sangat membutuhkan akses telekomunikasi,” pungkas Nezar.
Jadi, meski tantangan listrik masih membayangi, upaya perbaikan terus digenjot. Kombinasi antara perbaikan infrastruktur dasar dan bantuan teknologi daratan menjadi kuncinya.
Artikel Terkait
Menaker Terbitkan Aturan Baru, Hanya Enam Bidang Pekerjaan yang Boleh Gunakan Sistem Outsourcing
Kementerian Perdagangan Siap Sesuaikan HET Minyakita, Harga di Pasaran Tembus Rp19.000 per Liter
Penataan Jalan HR Rasuna Said Dikebut, Ditargetkan Rampung Sebelum HUT Jakarta 2026
Konflik Timur Tengah Ancam Investasi Raksasa AI Senilai Rp10.800 Triliun