Anggota DPRD DIY Kagumi Museum KAA, Dorong Yogyakarta Segera Miliki Museum Kejuangan

- Sabtu, 13 Desember 2025 | 13:18 WIB
Anggota DPRD DIY Kagumi Museum KAA, Dorong Yogyakarta Segera Miliki Museum Kejuangan

Anggota Komisi A DPRD DIY baru-baru ini menyambangi Museum Konferensi Asia Afrika di Bandung. Kunjungan ini bukan sekadar jalan-jalan biasa, lho. Mereka sengaja datang bersama beberapa wartawan untuk mempelajari tata kelola museum sejarah, sekaligus sebagai bagian dari upaya memperdalam pembelajaran Pancasila dan sejarah bangsa.

Menurut Eko Suwanto, Ketua Komisi A dari Fraksi PDI Perjuangan, mereka ingin melihat langsung bagaimana museum bersejarah dikelola. Museum KAA, baginya, adalah gudangnya memori. Di sana tersimpan dengan rapi arsip-arsip penting dari konferensi legendaris tahun 1955 itu.

“Arsip-arsip termasuk naskah pidato Bung Karno, risalah sidang dan dokumen bersejarah, serta film masih bisa kita nikmati di Museum Asia Afrika di Bandung. Termasuk ruangan tempat sidang juga kursi yang ditempati para delegasi masih terawat dengan baik,”

ujar Eko dalam sebuah keterangan tertulis.

Dia punya alasan kuat. Baginya, museum semacam ini manfaatnya berlapis. Di satu sisi, ia jadi sarana edukasi yang hidup untuk generasi muda. Di sisi lain, ia juga berfungsi sebagai pusat riset sekaligus penyokong ekonomi lewat wisata sejarah. Sungguh, nilai plusnya banyak sekali.

Namun begitu, kunjungan itu rupanya memantik harapan yang lebih konkret untuk Yogyakarta. Eko merasa DIY, dengan segudang peran sejarahnya, perlu terinspirasi.

“Harapan saya, Pemda DIY terinspirasi Museum Asia Afrika ini. Pentingnya segera cepat membangun monumen perjuangan hadirkan museum kejuangan, Yogyakarta punya peran sejarah, ada peristiwa pindah ibukota dari Jakarta ke Jogja. Banyak peristiwa kejuangan yang hebat di Jogja. Kita harap Pemda lekas susun naskah akademik dan membangun museum. Ini akan terus kita suarakan untuk anak cucu kita di masa yang akan datang,”

tegasnya.

Pesan itu jelas. Ada urgensi di sana. Yogyakarta, kota yang pernah menjadi ibu kota republik, menyimpan banyak cerita heroik yang sayang jika hanya mengendap dalam buku. Ia butuh sebuah ruang fisik sebuah museum kejuangan agar narasi perjuangan itu bisa diakses, dirasakan, dan menjadi pembelajaran nyata bagi siapa saja, sekarang dan nanti.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar