Ekonomi Syariah Pacu Kencang, Proyeksi Aset Tembus Rp3.500 Triliun di 2026

- Kamis, 04 Desember 2025 | 16:50 WIB
Ekonomi Syariah Pacu Kencang, Proyeksi Aset Tembus Rp3.500 Triliun di 2026

Di Jakarta, Kamis lalu, optimisme terpancar jelas dalam acara BSI Sharia Economic Outlook 2026. PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) memproyeksikan masa depan cerah untuk ekonomi syariah negeri ini. Menurut perhitungan mereka, total aset keuangan syariah bakal melesat dari Rp3.158 triliun di tahun 2025 menjadi sekitar Rp3.508 triliun pada 2026. Angka itu berarti pertumbuhan kira-kira 14,8 persen sebuah lompatan yang cukup signifikan.

Lalu, bagaimana dengan perbankan syariah sendiri? Asetnya diproyeksikan menembus Rp1.205 triliun. Sementara pembiayaan diperkirakan mencapai Rp794 triliun, tumbuh hampir 11,9 persen. Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tak kalah, diprediksi menyentuh Rp952,9 triliun dengan pertumbuhan 12,55 persen. Semuanya bergerak dengan kecepatan dua digit.

Chief Economist BSI, Banjaran Surya Indrastomo, yang hadir dalam acara itu, terlihat yakin. Baginya, ekonomi dan keuangan syariah kini bukan sekadar pelengkap.

“Keuangan syariah tidak lagi sekadar pelengkap, tetapi telah menjadi salah satu pilar pertumbuhan sektor keuangan nasional. Pertumbuhan aset, pembiayaan, dan DPK perbankan syariah yang konsisten dua digit menunjukkan kepercayaan dan preferensi masyarakat yang terus menguat,” ujar Banjaran.

Ia meyakini, sektor ini sudah jadi bagian integral dari dorongan pertumbuhan nasional. Memang, kedalaman pasar keuangan syariah masih terbilang terbatas. Namun begitu, justru di situlah menariknya: momentum pertumbuhannya malah terasa sangat kuat.

Nah, cerita pertumbuhan ini ternyata tak cuma terjadi di sektor keuangan. Di hilir, industri halal disebut-sebut akan menjadi penguat penting. Konsumsi produk halal dalam negeri pada 2026 diprediksi mencapai USD259,8 miliar, tumbuh sekitar 5,88 persen. Angka ini menyumbang lebih dari 30 persen dari total konsumsi rumah tangga nasional. Cukup besar, bukan?

Dari sisi ekspor, kontribusinya juga tak main-main. Produk halal menyumbang 20 persen dari total ekspor barang non-migas Indonesia. Tahun depan, nilai ekspornya diproyeksikan naik jadi USD73,9 miliar dengan pertumbuhan sekitar 8,73 persen. Yang menggembirakan, ekspor non-sawit terus menunjukkan tren peningkatan.

Kalau diamati, tren kenaikan ini merata di beberapa kategori. Mulai dari makanan-minuman halal, kosmetik halal, hingga kesehatan, pendidikan, dan perjalanan ibadah. Pola konsumsi seperti inilah yang nantinya akan jadi bantalan pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, ini juga membuka peluang besar bagi sektor-sektor yang terkait langsung dengan gaya hidup halal dan tentu saja, keuangan syariah.

Ada satu hal lain yang patut dicatat: potensi dana sosial. Penerimaan zakat, infak, sedekah, dan dana sosial keagamaan lainnya (ZIS-DSKL) diproyeksikan naik dari Rp44,56 triliun pada 2025 menjadi Rp52,66 triliun di tahun depan. Pertumbuhannya mencapai 18,17 persen year-on-year.

Banjaran melihat ini sebagai sinyal positif. Meningkatnya preferensi masyarakat berpotensi memperkuat fondasi pemerataan ekonomi. Apalagi jika dana-dana sosial ini bisa diintegrasikan dengan baik ke dalam pembiayaan syariah formal dan program-program pemberdayaan pemerintah.

“Indonesia memiliki peluang besar memasuki fase pertumbuhan yang lebih kuat dan inklusif di 2026,” tambahnya.

Meski begitu, ia tak menampik bahwa tantangan tetap menghadang. Risiko global, kedalaman pasar keuangan yang masih perlu diperdalam, dan kebutuhan untuk menciptakan lebih banyak lapangan kerja berkualitas adalah beberapa di antaranya.

“Tantangan tetap ada: risiko global, kedalaman pasar keuangan yang masih terbatas, dan kebutuhan menciptakan lebih banyak pekerjaan berkualitas. Namun, dengan kebijakan yang tepat dan pemanfaatan penuh potensi ekonomi syariah, Indonesia tidak hanya bisa bertahan, tetapi juga melompat ke level pertumbuhan yang lebih inklusif dan berkelanjutan,” tutup Banjaran.

Jadi, gambaran untuk 2026 memang penuh harapan. Semua angka dan proyeksi itu bicara tentang satu hal: ekonomi syariah Indonesia sedang bersiap untuk pacu kencang.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar