Untungnya, respons dari maskapai terbilang sigap. Mereka sudah melakukan perbaikan yang diperlukan pada pesawat-pesawat yang terdampak. Hasil perbaikan itu pun tak lepas dari pengawasan ketat. Inspektur Kelaikudaraan dan Inspektur Operasi dari Ditjen Hubud turun tangan melakukan evaluasi. Hasilnya? Semua dinyatakan telah memenuhi standar keselamatan penerbangan.
Lukman pun memberi apresiasi. Dia menilai masalah ini diselesaikan dengan baik oleh maskapai-maskapai terkait, tanpa sampai mengganggu operasional penerbangan nasional secara signifikan. Padahal, awalnya sempat ada kekhawatiran.
Bagaimana tidak? Instruksi dari EASA itu mewajibkan perbaikan software, dan jumlah A320 di Indonesia tidak sedikit. Enam maskapai mengoperasikannya: Batik Air, Super Air Jet, Citilink Indonesia, Indonesia AirAsia, Pelita Air, dan Transnusa. Gangguan operasional sempat mengintai. Namun begitu, semuanya bisa ditangani.
Perlu diingat, instruksi EASA ini bersifat global, ditujukan ke seluruh operator A320 di dunia. Jadi, Indonesia tidak sendiri. Tapi, respons yang cepat dan koordinasi yang solid antara regulator dan maskapai membuat proses perbaikan di tanah air bisa diselesaikan tepat waktu. Kini, semua pesawat telah dinyatakan siap terbang dengan aman.
Artikel Terkait
Pelni Proyeksikan Penumpang Mudik Lebaran 2026 Turun Tipis Jadi 641.025 Orang
Pemerintah Tanggapi Penurunan Outlook Fitch dengan Sorot Fundamental Ekonomi yang Kuat
Gubernur California Newsom Sebut Israel Negara Apartheid dan Pertanyakan Bantuan Militer AS
Dinkes Tangsel Perketat Pengawasan Takjil Jelang Buka Puasa