Di tengah suasana Ramadan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyempatkan diri bersilaturahmi dengan sejumlah ulama dan tokoh masyarakat Jawa Barat. Acara yang berlangsung di Mapolda Jabar, Rabu (4/3/2026) itu, lebih dari sekadar pertemuan seremonial. Sigit ingin mengobarkan lagi semangat persatuan, di saat dunia terasa makin panas.
Hadir dalam pertemuan itu Gubernur Jabar Dedi Mulyadi dan Kapolda Irjen Rudi Setiawan, plus para pimpinan ormas Islam. Suasana hangat terasa, meski topik yang dibicarakan cukup berat. Dalam sambutannya, Sigit langsung menyentuh persoalan global yang menurutnya sedang "tidak baik-baik saja".
"Yang saya hormati bapak-bapak dan ibu-ibu sekalian, tentunya di satu sisi juga kita sama-sama tahu bahwa kita sedang menghadapi situasi yang sedang tidak baik-baik saja, khususnya karena situasi global yang tentunya implikasinya bisa berdampak terhadap situasi dalam negeri,"
Begitu kata Kapolri membuka pembicaraan. Dia tak mau keadaan dunia yang carut-marut itu mengganggu cita-cita bangsa Indonesia. Namun begitu, dia mengakui eskalasi konflik justru makin membesar, bukan mengecil.
Pembicaraan kemudian mengerucut pada satu titik: konflik di Timur Tengah. Sigit menyoroti peran Presiden Prabowo Subianto yang berupaya mendamaikan Gaza. Tapi nyatanya, api konflik malah menjalar.
"Namun dalam perjalanannya kita melihat bahwa eskalasi ternyata tidak hanya ada di sekitar Gaza, namun kemudian berkembang sampai ke Iran dan kemudian terjadi balas-membalas... ini juga menimbulkan eskalasi yang sangat luar biasa,"
Dampaknya? Luar biasa. Menurut Sigit, adu tembak antara Iran dan Amerika Serikat-Israel itu berimbas ke mana-mana. Harga minyak dunia merangkak naik, misalnya. Selat Hormuz yang jadi jalur perdagangan minyak pun ikut terdampak, mengguncang negara-negara pengimpor.
Pemerintah, lewat diplomasi, berusaha keras agar semua ini cepat berakhir. Tapi Sigit menegaskan, usaha saja tak cukup. Masyarakat harus siap dan bersatu. "Itu semua bisa terjadi kalau kita semua bersatu menghadapi satu musuh bersama," tegasnya.
Untuk menguatkan argumennya, Sigit mengajak hadirin mengingat masa pandemi COVID-19. Saat itu, situasinya juga suram. Tapi dengan gotong royong, kata dia, Indonesia bisa keluar dari keterpurukan ekonomi yang sempat minus 2%.
"Kita pernah ingat di zaman COVID semua negara mengalami hal yang sama. Namun pada saat itu kita bersatu, masyarakat, ulama, pengusaha, aparat, pemerintah, semua bersatu, gotong royong, masalah bisa selesai,"
Pelajaran dari masa lalu itulah yang dia harap bisa diulang. Menurut Sigit, kunci menghadapi gejolak dunia sekarang ini sederhana: kompak. Seperti dulu, ketika semua elemen bangsa bergandengan tangan. Pesannya jelas, di tengah ancaman krisis global, persatuan bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
Artikel Terkait
Prancis Tuding Hezbollah Serang Pasukan PBB di Lebanon, Satu Tentara Tewas
Polda Sumsel Amankan 163 Tersangka dan 7,2 Kg Sabu dalam Pengungkapan Jaringan Narkoba Lintas Wilayah
Gunung Semeru Erupsi, Status Siaga Level III dan Zona Bahaya Dipertegas
Ketua Umum TP PKK Pusat Dukung Minyak Kemiri Belu Jadi Produk Unggulan dan Potensi Ekspor