Kemenparekraf Apresiasi Cap Go Meh 2026 sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Jakarta

- Rabu, 04 Maret 2026 | 21:45 WIB
Kemenparekraf Apresiasi Cap Go Meh 2026 sebagai Penggerak Ekonomi Kreatif Jakarta

Jakarta – Perayaan Cap Go Meh Jakarta 2026 mendapat apresiasi dari Kementerian Ekonomi Kreatif. Acara ini dinilai bukan cuma sekadar ritual budaya tahunan, tapi juga momentum nyata untuk menguatkan harmoni sekaligus mendorong roda ekonomi kreatif di Ibu Kota.

Irene Umar, sang Wakil Menteri Ekraf, melihat festival ini dengan kacamata yang lebih luas. Baginya, ini adalah ruang aktualisasi bagi para pelaku kreatif yang selama ini berjuang.

“Festival Cap Go Meh bukan hanya perayaan budaya, tetapi juga ruang aktualisasi pejuang ekonomi kreatif. Kolaborasi antara pemerintah, komunitas, dan pejuang ekraf seperti ini menjadi contoh konkret bagaimana budaya bisa menjadi penggerak ekonomi di Jakarta,”

Demikian pernyataan Irene yang dikutip dari siaran pers, Rabu (4/3/2026).

Ia meyakini, ketika sebuah perayaan budaya dikemas secara inklusif dan kreatif, dampaknya akan jauh lebih besar. Bukan cuma soal kebanggaan identitas, tapi juga terciptanya peluang usaha dan lapangan kerja baru. Konsep “Cahaya Keberagaman di Glodok” yang diusung, menurutnya, justru mempertegas Jakarta sebagai kota global yang akarnya adalah harmoni dari berbagai budaya.

Di sisi lain, gelaran yang berpusat di kawasan Pancoran Chinatown Point Mall itu sendiri memang meriah. Nuansa tradisi bertemu modern terasa jelas, mulai dari seni pertunjukan kontemporer, atraksi barongsai yang memukau, hingga deretan stan kuliner yang menawarkan kreasi unik.

Bagi Irene, kolaborasi lintas sektor dalam festival semacam ini adalah model ideal. Ia melihatnya sebagai blueprint untuk pengembangan ekonomi kreatif yang benar-benar berbasis budaya.

“Kehidupan harmonisasi keberagaman di Jakarta semakin kuat. Saat budaya dirayakan bersama, energi positifnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat menuju sejahtera,”

tambahnya.

Acara tersebut juga dihadiri oleh sejumlah tokoh penting. Gubernur Jakarta Pramono Anung hadir, bersama mantan-mantan gubernur seperti Sutiyoso, Fauzi Bowo, dan Anies Rasyid Baswedan. Kehadiran mereka seolah menyiratkan dukungan lintas generasi pemimpin untuk acara budaya semacam ini.

Menjelang usia Jakarta yang ke-500 tahun, harapan Irene jelas. Cap Go Meh diharapkan tak lagi dipandang sebagai penutup serangkaian perayaan Imlek belaka. Lebih dari itu, ini harus jadi momentum untuk menyatukan langkah dan membangun optimisme kolektif. Tujuannya satu: mewujudkan Jakarta sebagai kota global yang inklusif, kaya budaya, dan punya daya saing kuat.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar