MOSKOW Vladimir Putin kembali membuat pernyataan yang mengundang tanya. Presiden Rusia itu menyebut serangan militer negaranya ke Ukraina, yang sudah berlangsung sejak 2022, bukanlah perang. Bukan dalam arti yang sebenarnya. Menurutnya, itu lebih tepat disebut sebagai operasi "pembedahan".
Pernyataannya ini disampaikan dalam sebuah konferensi pers, sekaligus menanggapi spekulasi mengenai kemungkinan perang dengan negara-negara Eropa.
“Dengan Ukraina, kita beroperasi secara bedah di sana, dengan hati-hati. Ini bukan perang dalam arti harfiah dan modern,” ujar Putin, seperti dikutip Rabu lalu.
Dia tak menjelaskan lebih jauh apa maksud "pembedahan" itu. Tapi istilah itu jelas punya nuansa. Seolah ingin menggambarkan aksi militer Rusia sebagai sesuatu yang terukur dan terarah, bukan invasi besar-besaran. Padahal, faktanya di lapangan? Pertempuran sudah makan waktu hampir tiga tahun. Korban jiwa pun berjatuhan, puluhan ribu orang.
Nah, di sinilah banyak pengamat membaca narasi baru dari Kremlin. Sebuah upaya untuk mereduksi skala konflik yang sebenarnya masif ini. Mereka berusaha membingkai ulang perang ini cuma sebagai operasi "terbatas".
Padahal, coba lihat realitanya. Serangan rudal, drone, pertempuran darat berdarah, perebutan wilayah di Donetsk dan Luhansk semua itu adalah kenyataan sehari-hari yang terus berkobar. Dengan menyebutnya "membedah", Putin seperti ingin menegaskan bahwa Rusia tidak berniat menghancurkan Ukraina total. Hanya melakukan aksi yang dianggap perlu untuk keamanannya.
Tapi bagi banyak kalangan di Barat, narasi semacam ini tak lebih dari propaganda. Sebuah cara untuk menutupi brutalitas dan skala sesungguhnya dari konflik yang telah mengguncang Eropa ini.
Yang menarik, pernyataan "bukan perang" ini justru kontras dengan nada yang dia gunakan untuk Eropa. Di sisi lain, ancamannya terhadap negara-negara Eropa terdengar keras dan tanpa basa-basi.
“Jika Eropa tiba-tiba memulai perang, kami tidak akan memiliki siapa pun untuk bernegosiasi,” tegasnya.
Jadi, di satu sisi dia bicara soal kehati-hatian dan "pembedahan" di Ukraina. Namun begitu, di sisi lain, ancaman perang penuh digaungkan ke Eropa. Sebuah kontras yang mencolok.
Dan terlepas dari diksi "hati-hati" yang dipilih Putin, keadaan di medan perang justru menunjukkan hal sebaliknya. Konflik ini berkepanjangan, tanpa tanda-tanda akan mereda. Pertempuran masih memanas di front timur dan selatan. Jalur diplomasi antara Moskow dan Kiev? Sampai sekarang masih buntu. Tak ada titik terang.
Artikel Terkait
Kecelakaan KA Argo Bromo Anggrek vs KRL di Bekasi Timur: 15 Tewas, 91 Luka-luka
Jalur Kereta di Stasiun Bekasi Timur Kembali Beroperasi Usai Kecelakaan, Kecepatan Dibatasi
Guru Ngaji di Tangerang Diciduk Polisi, Cabuli Empat Murid dengan Modus Pengusiran Jin
Bupati Lampung Tengah Nonaktif Ardito Wijaya Dipindahkan ke Lapas Lampung Jelang Sidang Perdana