MOSKOW Vladimir Putin kembali membuat pernyataan yang mengundang tanya. Presiden Rusia itu menyebut serangan militer negaranya ke Ukraina, yang sudah berlangsung sejak 2022, bukanlah perang. Bukan dalam arti yang sebenarnya. Menurutnya, itu lebih tepat disebut sebagai operasi "pembedahan".
Pernyataannya ini disampaikan dalam sebuah konferensi pers, sekaligus menanggapi spekulasi mengenai kemungkinan perang dengan negara-negara Eropa.
“Dengan Ukraina, kita beroperasi secara bedah di sana, dengan hati-hati. Ini bukan perang dalam arti harfiah dan modern,” ujar Putin, seperti dikutip Rabu lalu.
Dia tak menjelaskan lebih jauh apa maksud "pembedahan" itu. Tapi istilah itu jelas punya nuansa. Seolah ingin menggambarkan aksi militer Rusia sebagai sesuatu yang terukur dan terarah, bukan invasi besar-besaran. Padahal, faktanya di lapangan? Pertempuran sudah makan waktu hampir tiga tahun. Korban jiwa pun berjatuhan, puluhan ribu orang.
Nah, di sinilah banyak pengamat membaca narasi baru dari Kremlin. Sebuah upaya untuk mereduksi skala konflik yang sebenarnya masif ini. Mereka berusaha membingkai ulang perang ini cuma sebagai operasi "terbatas".
Padahal, coba lihat realitanya. Serangan rudal, drone, pertempuran darat berdarah, perebutan wilayah di Donetsk dan Luhansk semua itu adalah kenyataan sehari-hari yang terus berkobar. Dengan menyebutnya "membedah", Putin seperti ingin menegaskan bahwa Rusia tidak berniat menghancurkan Ukraina total. Hanya melakukan aksi yang dianggap perlu untuk keamanannya.
Artikel Terkait
Yayasan Gates Siapkan Rp150 Triliun, Tapi PHK 500 Karyawan Mengintai
Cipratan Air Banjir Picu Amuk, Warga Koja Berakhir dengan Luka di Wajah
Ekonomi Jerman Akhirnya Tumbuh Tipis, Tapi Beban Ekspor Masih Membelit
Ekspor Mobil Ramah Lingkungan Korsel Tembus Rp1.200 Triliun di Tengah Pergeseran Pasar