Gus Yahya Tegaskan Posisi, Tolak Klaim Pemberhentian dari PBNU

- Rabu, 03 Desember 2025 | 16:25 WIB
Gus Yahya Tegaskan Posisi, Tolak Klaim Pemberhentian dari PBNU
Pernyataan Tegas Gus Yahya

Suasana di lokasi jumpa pers itu tegang. Di hadapan awak media, Rabu (3/12/2025), Yahya Cholil Staquf atau yang akrab disapa Gus Yahya bersikukuh dengan posisinya. Dengan nada tegas, ia menolak untuk mundur dari jabatan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU). Baginya, statusnya sebagai ketum yang sah tak bisa diganggu gugat.

"Tetap. Posisi Ketum tidak dapat berubah, kecuali melalui muktamar," tegas Gus Yahya.

Ia berargumen bahwa konstitusi dan regulasi internal PBNU sudah sangat jelas mengatur hal ini. Menurutnya, tak ada ruang untuk tafsir lain. Karena itu, segala pernyataan yang disebut sebagai hasil rapat harian syuriyah PBNU, ia tolak mentah-mentah. "Maka dengan demikian, pernyataan itu tidak diterima," ujarnya lagi.

Di sisi lain, Gus Yahya mencoba melunakkan sikapnya. Ia menyatakan tidak punya kepentingan pribadi dalam hal ini. Yang ia perjuangkan, katanya, hanyalah menjaga tatanan organisasi NU agar tetap berjalan sesuai aturan yang ada.

Namun begitu, situasi ini bukannya tanpa sebab. Beberapa hari sebelumnya, tepatnya Sabtu (29/11/2025), Rais Aam PBNU Miftachul Akhyar sudah membuat pernyataan yang bertolak belakang. Dalam konferensi pers di kantor PWNU Jawa Timur, Miftachul menegaskan bahwa Gus Yahya sudah tidak lagi menjabat sebagai Ketum.

Keputusan pemberhentian itu, jelasnya, berasal dari Rapat Harian Syuriyah PBNU pada 20 November 2025.

"Sebanyak 36 PWNU yang hadir telah memahami dengan baik latar belakang keputusan Rapat Harian Syuriyah PBNU dan memberikan dukungan sepenuhnya kepada Rais Aam untuk menindaklanjuti keputusan tersebut," kata Miftachul.

Surat resmi yang dikeluarkan bahkan menyebut waktu yang spesifik: terhitung 26 November 2025 pukul 00.45 WIB, status Gus Yahya sebagai ketum dicabut. Sejak detik itu, kendali kepengurusan PBNU sepenuhnya berada di tangan Rais Aam.

Jadi, di satu sisi ada keteguhan dari Gus Yahya yang bersandar pada aturan muktamar. Di sisi lain, ada klaim otoritas dari struktur syuriyah yang didukung banyak pengurus wilayah. Dua kubu ini kini seperti sedang berhadapan, masing-masing mengaku paling sah. Bagaimana kelanjutannya? Hanya waktu yang bisa menjawab.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar

Terpopuler