Di Balik Layar Makkah, Ketua MPR dan Liga Muslim Dunia Bahas Platform Digital untuk Persatuan Umat

- Rabu, 26 November 2025 | 21:15 WIB
Di Balik Layar Makkah, Ketua MPR dan Liga Muslim Dunia Bahas Platform Digital untuk Persatuan Umat

Di kantor Liga Muslim Dunia yang terletak di Makkah, Arab Saudi, kemarin, suasana tampak hangat. Ahmad Muzani, Ketua MPR RI, hadir dalam acara peluncuran platform elektronik organisasi tersebut. Ia disambut langsung oleh Sekjen Liga Muslim Dunia, Syekh Muhammad bin Abdul Karim al-Issa.

Menurut Muzani, kehadiran platform digital semacam ini bukanlah hal sepele. Di tengah pesatnya perkembangan teknologi, inisiatif ini dinilainya sangat krusial.

Sebagai Ketua MPR, tugas saya adalah merawat persatuan dan kebersamaan di tengah keberagaman. Perbedaan justru kita anggap sebagai energi, bukan penghalang. Para pemimpin kita melihatnya sebagai kekuatan untuk menjaga persatuan, bukan malah memecah belah.

Kami berharap platform Liga Muslim yang diluncurkan besok bisa benar-benar bermanfaat. Tujuannya agar Islam tampil sebagai agama yang membawa rahmat bagi semesta. Kesadaran untuk bersatu sesama umat Islam harus terus kita kobarkan. Itulah cara kita untuk tetap kuat,

demikian penjelasan Muzani di Makkah, melalui keterangan tertulis yang diterima pada Rabu (26/11/2025).

Platform ini, ungkapnya, diharapkan bisa mendekatkan berbagai pandangan keagamaan. Ia membayangkan sebuah jembatan antar madzhab Islam yang pada akhirnya menyatukan umat dalam ikatan persaudaraan dan kemanusiaan. Hal ini juga diharapkan dapat menjauhkan masyarakat dari sikap fanatisme kelompok yang sempit. Tak heran, Indonesia disebutnya sangat mendukung penuh inisiatif peluncuran platform Liga Muslim Dunia ini.

Di sisi lain, Muzani turut menyambut baik langkah pemerintah Arab Saudi yang bersama Prancis menggelar konferensi internasional untuk Palestina di PBB. Konferensi itu, kata dia, secara tegas menyuarakan kemerdekaan Palestina.

Dalam kesempatan yang sama, Muzani kembali menegaskan komitmennya untuk menjaga harmoni di tengah masyarakat Indonesia yang majemuk.

Ambil contoh di bulan Ramadan. Kita bisa menyaksikan sendiri, saudara-saudara kita yang tidak berpuasa dan yang berpuasa saling menghormati. Itu terjadi meski keyakinan mereka berbeda-beda,


Halaman:

Komentar