Ia juga menekankan pentingnya memperkuat pasar dalam negeri. Meski peringkat global itu penting, jangan lupa bahwa sebagian besar hasil manufaktur justru diserap di dalam negeri. Karena itu, kebijakan harus berpihak pada industri lokal, agar dampaknya benar-benar terasa bagi pekerja dan pelaku usaha di tanah air.
SBIN: Strategi Baru Menghadapi Persaingan Global
Menghadapi persaingan global yang makin ketat, Kementerian Perindustrian punya senjata baru: Strategi Baru Industrialisasi Nasional atau SBIN. Ini adalah peta jalan industri Indonesia di era pascapandemi dan transisi menuju ekonomi hijau.
“Ini keterpanggilan kami untuk bisa mendetailkan sektor manufaktur itu, bagaimana kami bisa memberikan kontribusi agar target 8 persen itu bisa tercapai,” ujar Menperin.
Agus menjelaskan, SBIN disusun untuk menjawab berbagai tantangan dan sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto. Desainnya dibuat per sektor secara detail, tapi tetap mengacu pada RPJPN 2025–2045 dan RPJMN 2025–2029.
“Ini strategi. Seperti sepak bola, kalau ingin menang 2-0 dan 3-0, itu strateginya berbeda. Ini yang disebut strategi untuk mendapatkan apa yang sudah digariskan oleh Bapak Presiden, yaitu pertumbuhan ekonomi mendekati 8 persen,” katanya.
Intinya, SBIN dirancang sebagai kerangka strategis untuk mewujudkan industri domestik yang tumbuh sekaligus berdaulat. Di dalamnya, ada tiga pilar utama: kemandirian ekonomi, transformasi teknologi, dan tentu saja, keberlanjutan lingkungan.
Artikel Terkait
FCC Beri Izin, Armada Satelit Starlink Elon Musk Bakal Tembus 15.000 Unit
Nobar Berujung Ricuh: Petasan Picu Bentrok Suporter di Depok
Korban Jiwa Membengkak, Iran Hadapi Gelombang Kerusuhan Terbesar
Ketegangan Iran-AS Memanas, Ketua Parlemen Ancam Serang Israel dan Pangkalan Amerika