Irfan Hakim dikenal publik sebagai sosok yang energik dan selalu ceria di layar kaca. Tapi siapa sangka, di balik tawa lepasnya itu tersembunyi ritme hidup yang luar biasa padat. Sang presenter dan kreator konten ini ternyata menjalani hari-harinya dengan tempo tinggi, jauh melebihi apa yang bisa kita bayangkan.
Bertemu di kawasan Jakarta Selatan pada suatu Selasa, Irfan bercerita dengan nada setengah heran. Bahkan saat tidur pun, pikirannya tak benar-benar beristirahat. Ia sampai bermimpi sedang bekerja, yang membuatnya terbangun dengan perasaan aneh.
"Karena tidur aja gue tuh bisa mimpi kerja. Gue pernah bangun gara-gara gue gini 'Tiga, dua, satu,' gitu. Mimpi nge-MC, mimpi kerja. Udah kebangun. 'Sialan, gue dalam istirahat aja gue kerja,' gitu,"
Ceritanya mengalir dengan jujur. Waktu istirahatnya seringkali terpotong oleh pekerjaan yang masih harus diselesaikan usai syuting. Sementara istrinya sudah terlelap, ia masih sibuk dengan urusan editing.
"Gitu. Jadi, ya udah. Jadi, kalau misal mau ngedit itu istri gue udah tidur nyenyak, gue masih klethek-klethek-klethek itu,"
Yang menarik, komunikasi dengan timnya tak kenal waktu. Di tengah malam buta, percakapan kerja masih berlangsung. Bagi Irfan, media sosial bukan sekadar hiburan, melainkan alat koordinasi yang tak pernah berhenti.
"Bermain sosmed itu gue komunikasi dengan tim gue. Jadi, jam 02.00 tuh bisa mereka bangun. Mungkin tim gue tuh udah ada, gue, 'Ini di-giniin, itu di-iniin'," gitu-gitu,"
Di sisi lain, ia bersyukur memiliki istri yang sangat memahami kesibukannya. Baru belakangan ini ia menyadari betapa besar porsi waktu yang ia berikan untuk pekerjaan, terutama ketika melihat anak-anaknya yang juga ingin menghabiskan waktu bersamanya.
"Enggak, udah tahu istri gue mah udah, bahwa gue beneran... apa ya, mendedikasikan buat banyak orang,"
"Dari dulu sebetulnya seperti ini, tapi makin ke sini karena banyak orang yang menginginkan waktu gue, misal anak-anak. Gue baru gini, 'Oh, iya, ya, waktu gue 90% buat kerja,' gitu,"
Kesibukannya benar-benar tanpa jeda. Ia menceritakan pengalaman baru-baru ini, ketika baru mendarat dari Jepang jam enam sore, langsung melanjutkan shooting sampai tengah malam.
"Ya kayak kemarin tuh, mendarat dari Jepang jam 06.00 siang, langsung shooting sampai tengah malam. Tadi cuma tidur tadi pagi ketemu anak-anak, gue juga bagiin oleh-oleh. Nih, kerja lagi. Tadi malam enggak pulang lagi karena kan sampai tengah malam, besok paginya banget harus kerja lagi,"
Menurut Irfan, justru ritme kerja seperti inilah yang membuatnya merasa hidup. Liburan malah kurang ia nikmati dibanding saat bekerja.
"Dan keluarga gue itu semuanya tahu gue happy-nya tuh dari seperti itu. Kalau liburan tuh gue ya, ih, ih,"
Pola hidup super sibuk ini ternyata menular ke anak-anaknya. Jalu dan Aisyah kini terbiasa dengan jadwal teratur setiap hari. Salah satunya adalah kegiatan berkuda yang bisa mereka lakukan hingga enam kali seminggu.
"Nah, akhirnya anak-anak gue juga ketika ini kayak Jalu, Aisyah, gitu. Berkuda itu bisa hampir tiap hari. Enam hari dalam seminggu itu berkuda. Dan mereka ya udah, ngelakuinnya juga enggak mengeluh, mereka memanfaatkan waktu. Dan mereka terbiasa dengan jadwal jam. Jadi, gue begini: 'Bisa enggak hari ini ini?' 'Raya, hari ini aku ada gini.' Mereka sudah punya jadwal semuanya. Sudah terbiasa seperti itu,"
Artikel Terkait
Kepala Bakom Janji Pola Komunikasi Pemerintah Lebih Agresif: ‘Kalau Diserang, Jangan Diam’
Menteri Perhubungan Panggil Manajemen Green SM Usai Kecelakaan Maut di Bekasi Timur Tewaskan 14 Orang
Pemerintah Bebaskan Bea Masuk LPG dan Bahan Baku Plastik untuk Redam Dampak Perang di Selat Hormuz
Kapal Pesiar Miliarder Rusia yang Disanksi AS Lintasi Selat Hormuz Tanpa Hambatan