Perekonomian Kabupaten Banyumas di tahun 2023 ini masih bertumpu pada sektor industri dan usaha berskala kecil. Faktanya, hanya ada enam industri besar dan lima puluh lima usaha menengah yang tercatat di daerah ini. Jumlahnya sangat kecil dibandingkan puluhan ribu usaha mikro yang menjadi tulang punggung utama.
Data terbaru menunjukkan UMKM di Banyumas mencapai 89.553 unit. Yang menarik, lebih dari 90 persennya merupakan usaha skala kecil. Sementara itu, dari total 44.270 unit industri yang beroperasi, hanya 83 saja yang tergolong besar dan menengah. Angka-angka ini bicara banyak tentang siapa penggerak utama ekonomi lokal.
Di sisi lain, peran UMKM dan IKM jelas sangat sentral bagi kehidupan masyarakat Banyumas. Harapannya tentu saja usaha-usaha kecil ini bisa berkembang naik kelas secara bertahap. Tapi jalan menuju ke sana tidaklah mulus.
Masalahnya berlapis. Mulai dari modal yang seret sampai wawasan bisnis yang terbatas. Hal ini dirasakan betul oleh Slamet Hadipriyanto, generasi ketiga yang meneruskan Toko Batik Hadipriyanto sejak awal tahun 2000-an. Usaha batik yang sudah berusia lebih dari lima dekade ini bertahan dengan susah payah.
"Regenerasi perajin batik yang andal semakin sulit," keluh Slamet. Ditambah lagi, harga kain terus merangkak naik dari tahun ke tahun. Dia harus pintar-pintar menyesuaikan harga jual dengan biaya produksi dan upah perajin, sambil tetap memenuhi pesanan konsumen tepat waktu.
Di tengah keterbatasan itu, bantuan alat cetak untuk printing pola dasar batik dari Bank Indonesia melalui Kantor Perwakilan BI Purwokerto datang tepat waktu. Kini workshop-nya bisa mencetak pola dasar untuk 60 lembar kain dalam sehari. Cukup signifikan dibanding proses tulis canting manual yang memakan waktu jauh lebih lama.
Dari Sawah Organik sampai Ekspor Mancanegara
Batik Hadipriyanto bukan satu-satunya yang mendapat perhatian. Kelompok Tani Marsudi Lestari di Desa Dawuhan adalah contoh lain yang patut dicermati. Mereka membudidayakan padi organik dan berhasil swadaya berkat metode tanam bebas kimia yang diterapkan sejak 2017.
Kelompok beranggotakan 14 petani ini menggarap lahan seluas 5 hektare. Metode penanamannya mirip dengan padi non-organik, bedanya terletak pada penggunaan pupuk dan penghalau hama organik. Prosesnya tidak instan – butuh dua tahun untuk menyembuhkan lahan dan memulihkan kesuburan tanah.
Semua obat pertanian dibuat swadaya oleh anggota. Mulai dari Nitrobakteri untuk tanah, nutrisi agar bulir padi padat, penguat akar, sampai pestisida nabati. Bahan bakunya pun sederhana: jerami, sekam, dan limbah organik lainnya.
"Teman-teman dulu kena walang sangit itu bingung, sekarang dengan ada pupuk asap cair ini, sudah tidak khawatirnya. Kami baru buat asap cair ini setelah mesin penyulingannya ada," kata Slamet, Ketua Poktan Marsudi Lestari.
Meski urusan produksi sudah beres, tantangan pemasaran masih menghadang. Beras organik memang belum sepopuler beras biasa. Mereka harus menjajal semua saluran penjualan, termasuk e-commerce. Di sinilah Bank Indonesia turun tangan memberikan pembinaan tentang seluk-beluk penjualan online dan pengemasan standar.
Berkat mesin vacuum pemberian BI, Marsudi Lestari kini bisa mengemas beras organik dalam kemasan 1 kg untuk dijual online. Mereka bahkan sudah memasok beras organik ke Koperasi Desa Merah Putih di wilayahnya secara rutin.
"Harapannya kami bisa memasarkan ke petani lain, banyak teman-teman di luar ingin beli obat-obatan buatan kami. Namun saya tidak berani jual, karena harus ada izin dan labelnya," aku Slamet.
Cerita sukses lain datang dari Banjarnegara. Rumah Mocaf Indonesia, produsen tepung singkong termodifikasi yang kini sudah menembus pasar ekspor. Usaha ini digawangi Riza Azyumarridha Azra, lulusan UGM yang tergerak melihat harga singkong anjlok sampai Rp200 per kg.
"Mengawalinya dari 2014-2015. Waktu itu tidak ada kepikiran untuk dijadikan bisnis, niatnya untuk memberdayakan masyarakat. Kemudian saya ajarkan soal tepung singkong ini ke petani secara cuma-cuma," kata Riza.
Tapi petani kesulitan menjual tepung mocaf. Akhirnya Riza memutuskan serius menggarap potensi singkong dengan konsep sociopreneur. Kini Rumah Mocaf Indonesia mempekerjakan 33 karyawan dan memproduksi 10 jenis produk olahan singkong dengan brand Mocafine.
"Waktu itu sempat putus asa memasarkan Mocafine, karena konsumen belum familiar dengan tepung singkong. Alhamdulillah Bank Indonesia datang untuk mengajak kami memasok tepung mocaf untuk paket sembako," kenang Riza.
Dukungan BI berlanjut dengan peralatan digital untuk pemasaran, partisipasi dalam ISEF yang menghasilkan pesanan ratusan ton dari buyer luar negeri, sampai bantuan mesin produksi. Kini rata-rata ekspor mereka mencapai 60 ton ke Turki, Dubai, Belanda, dan China.
Dampaknya riil. Banyak ibu-ibu ikut serta dalam produksi, sementara petani bisa menjual singkong dengan harga Rp15.000/kg – jauh lebih tinggi dari HET Kementan.
Komitmen Jangka Panjang
Kantor Perwakilan BI Purwokerto punya tanggung jawab besar. Mereka menaungi empat wilayah: Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara. Tugasnya tidak hanya mengatur sistem perbankan, tapi juga pengendalian inflasi dan pengembangan UMKM.
Christoveny, Kepala KPw BI Purwokerto, menjelaskan saat ini mereka membina lebih dari 180 UMKM dari berbagai sektor. "Beberapa UMKM kerajinan di Cilacap sudah ekspor. Ada juga UMKM kopi dan produk perikanan yang sudah ekspor. Tujuan binaan Bank Indonesia adalah go digital dan go global," ujarnya.
UMKM yang disasar biasanya sudah berjalan minimal dua tahun, punya potensi ekonomi lokal yang bisa dikembangkan, pelakunya berkomitmen tinggi, dan masih menghadapi kendala. "Bank Indonesia masuk untuk mengatasi kendala-kendala itu agar mereka dapat terus maju," tegas Christoveny.
Pembinaan yang diberikan bersifat berkelanjutan. Dua tahun pertama intensif, terus berjalan sampai lima tahun. Bahkan ketika UMKM sudah mandiri, pemantauan tetap dilakukan.
"Misalnya masuk dalam pembinaan. Mulai dari produktivitas, peningkatan kapasitas, kualitas, lalu pemenuhan sertifikasi. Lalu perluasan pasar, saat pasarnya sudah cukup luas, saatnya masuk (pasar) global," paparnya.
Kolaborasi dengan pemerintah daerah dan universitas setempat menjadi kunci. Di daerah seperti Banyumas yang perekonomiannya ditopang UMKM, perhatian khusus memang sangat dibutuhkan. Bukan sekadar program sesaat, tapi komitmen jangka panjang untuk mengangkat ekonomi akar rumput.
Artikel Terkait
Irlandia Resmi Melarang Dua Menteri Israel, Ben Gvir dan Smotrich, Masuk ke Wilayahnya
Seluruh Jemaah Haji Kloter KJT-04 Selamat Terbang ke Tanah Air Usai Pesawat Alami Kendala Teknis di Jeddah
Timnas Indonesia Naik ke Peringkat 118 FIFA Usai Hentikan Kutukan 38 Tahun Lawan Oman
Timnas Indonesia Akhirnya Putus Puasa 38 Tahun Tak Pernah Kalahkan Oman