Analisis Menohok: Manuver PROJO Gabung Gerindra & Ganti Logo Jokowi Disebut Strategi Politik Terselubung
Analis komunikasi politik ternama, Hendri Satrio dari Universitas Paramadina, memberikan respons tajam terkait langkah kontroversial sukarelawan PROJO yang ingin bergabung dengan Partai Gerindra dan mengganti logo siluet wajah Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menurut Hensa, langkah ini bukan sekadar perpisahan biasa, melainkan sebuah strategi politik yang dirancang matang.
Politik Sandiwara di Balik Manuver PROJO?
Hendri Satrio dengan tegas menyatakan bahwa mustahil mempercayai narasi PROJO berseberangan dengan Jokowi. "Dalam politik, segala sesuatu yang terlalu kelihatan itu bisa jadi hanya pertunjukan, drama-drama. Politiknya ada di belakang," ujar Hensa dalam analisisnya di platform X.
Founder KedaiKOPI ini menduga kuat bahwa yang terjadi adalah strategi publik di mana PROjo sengaja tampak berpisah dari Jokowi. Hal ini, menurutnya, merupakan bagian dari permainan politik tingkat tinggi.
Kilas Balik Sejarah dan Strategi Jangka Panjang
Hensa mengingatkan publik pada catatan sejarah PROJO yang pernah "ngambek" dan mengancam bubar, namun akhirnya terselamatkan setelah Ketua Umumnya, Budi Arie Setiadi, diangkat menjadi Wakil Menteri Desa.
"Bisa jadi seolah-olah dibuat mereka berpisah. Padahal itu adalah sebuah strategi untuk memperkuat ide Jokowi sebelumnya, Prabowo-Gibran 2 periode," tegas Hensa.
Konfirmasi Perubahan Logo dari Ketua Umum PROJO
Sebelumnya, Ketua Umum PROJO Budi Arie Setiadi memang telah mengonfirmasi rencana transformasi organisasi, termasuk mengganti logo yang selama ini menampilkan wajah Jokowi. "Logo PROJO akan kami ubah, supaya tidak terkesan mengkultuskan individu," ujar Budi Arie usai pembukaan Kongres III PROJO di Jakarta Selatan.
Meski mengubah logo, organisasi sukarelawan ini kemungkinan akan tetap mempertahankan nama PROJO tanpa perubahan signifikan.
Peringatan untuk Publik dan Pengamat Politik
Hendri Satrio mengingatkan semua pihak untuk tidak mudah terjebak pada permukaan peristiwa. Dengan adanya tokoh seperti Menkeu Purbaya dan lainnya yang berpotensi menyaingi Gibran, Hensa menegaskan bahwa Jokowi adalah ahli dalam politik.
"Jadi, kalau hal-hal seperti ini dianggap wah ini mereka berseberangan. Pikir lagi," pungkas Hensa menutup analisis politiknya yang menggebrak ini.
Artikel Terkait
Dudung Bantah Terlibat Susun Pidato Prabowo yang Dikritik Habib Rizieq
Presiden Prabowo Terima Laporan Strategis dari Wakil Ketua DPR Usai Kunjungan ke Rusia dan Prancis
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo