Asap tebal, kepanikan, dan teriakan histeris. Itulah gambaran malam tahun baru yang berubah menjadi bencana di sebuah bar bawah tanah di resor ski Crans-Montana, Swiss. Kebakaran itu menewaskan 40 orang. Setelah penyelidikan mendalam, otoritas setempat pada Jumat lalu menyebutkan titik awal api: kembang api tangan atau sparklers yang dinyalakan di bawah plafon berlapis busa.
Menurut sejumlah saksi dan rekaman video ponsel yang beredar, suasana saat itu tampak riuh dan penuh sukacita. Pengunjung bar Le Constellation, kebanyakan remaja dan anak muda, sedang berpesta. Tanpa diduga, sparklers yang ditancap di botol sampanye dan diacung-acungkan tinggi itu mendekati langit-langit rendah. Masalahnya, plafon itu dilapisi busa peredam suara material yang mudah sekali terbakar.
Dalam video yang saya lihat, percikan api dari sparklers itu mulai membakar lapisan busa. Tapi, entah mengapa, para pengunjung tampak tak menyadarinya. Mereka terus menari, terperangkap dalam euforia yang justru berubah jadi jebakan maut.
Kepala Jaksa Wilayah Wallis, Beatrice Pilloud, dalam konferensi persnya cukup tegas.
"Semua indikasi mengarah pada sparklers atau lilin Bengal yang diangkat ke arah langit-langit sebagai sumber awal api," ujarnya.
Penyelidik pun memusatkan perhatian pada penggunaan kembang api tangan itu. Standar keselamatan tempat itu juga jadi fokus pemeriksaan. Di sisi lain, kepanikan yang terjadi setelahnya benar-benar kacau. Begitu mereka sadar ada kebakaran, semua orang berhamburan. Ada yang mencoba memecahkan jendela, sementara korban dengan luka bakar parah berjatuhan di jalanan.
Korban selamat pun dalam kondisi mengerikan. Dari 119 orang yang berhasil keluar, banyak yang kritis. Rumah sakit di Swiss kewalahan, sampai-sampai puluhan pasien harus dipindahkan ke negara tetangga demi perawatan luka bakar khusus.
Lalu, bagaimana dengan pemilik bar? Jacques Moretti, yang mengelola Le Constellation bersama istrinya sejak 2015, bersikeras bahwa semua aturan keselamatan telah dipatuhi. Dia dan istrinya selamat tanpa cedera dan telah dimintai keterangan sebagai saksi.
Namun begitu, jaksa Pilloud menegaskan bahwa sampai saat ini belum ada penetapan tanggung jawab hukum secara resmi. Penyidikan masih terus berjalan, mencoba mengurai setiap detil dari malam nahas itu.
Artikel Terkait
Federasi Iran Klaim Jatah Tiket Piala Dunia 2026 Dicabut Sepihak, Suporter Terancam Gagal Nonton
Puluhan Dapur Makan Bergizi Gratis di Jombang Berhenti Beroperasi Akibat Dana Operasional dari BGN Mandek
Timnas Indonesia Tutup FIFA Matchday Juni 2026 dengan Kemenangan Sempurna, Taklukkan Mozambik 1-0
WNA Singapura Ditemukan Tewas di Apartemen Batam Center, Polisi Selidiki Penyebab Kematian