Bahlil menduga keras ada unsur kesengajaan di balik kobaran api itu. Baginya, kehadiran kilang ini bakal memangkas habis praktik impor BBM yang sudah berjalan lama. Wajar saja kalau ada yang berusaha menghalangi.
"Saya tidak mengerti apakah terbakar karena dibakar atau ada faktor lain," katanya, menyisakan pertanyaan.
Namun begitu, investigasi pun digelar. "Bulan Agustus, saya perintahkan dari Irjen, kami minta investigasi, ternyata ada udang di balik batu."
Dia menutup dengan kesimpulan yang getir. "Masih ada yang tidak rela kalau kita mempunyai cadangan swasembada energi, agar impor terus, impor terus. Kita harus hadapi dalam waktu yang tidak lama lagi."
Pernyataan itu menggambarkan betapa beratnya perjalanan menuju kemandirian energi. Di satu sisi ada tekad membara, di sisi lain, rintangan terasa nyata dan sengaja dihadirkan.
Artikel Terkait
Anggota DPR Desak Percepat Regulasi PPPK untuk 630 Ribu Guru Madrasah
Koordinator KKN UGM 1985 Klaim Tak Kenal Joko Widodo
Rocky Gerung Soroti Rp17 Triliun untuk Dewan Perdamaian Trump: Harga Sebuah Buku dan Nyawa Anak di NTT
Himpunan Mahasiswa Al Washliyah Desak Prabowo Tindak Tegas Erick Thohir