"Kejujuran LISA patut di apresiasi. LISA menyatakan Jokowi tak lulus UGM berdasarkan data base yang di input dalam sistem ini. Untuk mahasiswa lainnya, terbukti LISA juga jujur menyatakan lulus. Artinya, kemungkinan LISA bohong 0 %," tulis Khozinudin.
Ia kemudian membandingkannya dengan situasi yang menurutnya terjadi selama ini. "Berbeda dengan Jokowi yang terbukti banyak berbohong dan potensial bohong lagi hingga 1.000 %."
Dalam tulisannya yang panjang, Koordinator Non Litigasi Tim Advokasi Anti Kriminalisasi Akademisi & Aktivis ini menyayangkan apa yang ia sebut sebagai 'represi soal ijazah'. Ia menyebut sejumlah nama seperti Roy Suryo dan Rismon Sianipar sebagai pihak yang terkena dampak.
"Akan tetapi, LISA UGM pun menjadi tumbal represi ijazah Jokowi. Semua telah menjadi korban," tulisnya.
Khozinudin merasa geram dengan prinsip yang dipegang Jokowi soal kerahasiaan ijazahnya. Baginya, sebagai pemimpin yang dibiayai rakyat, sikap itu terasa angkuh. "Dengan sombongnya, tak ada kewajiban untuk memperlihatkan ijazahnya."
Menurut pengamatannya, pembelaan dari UGM atau pihak lain justru tidak mengubah keyakinan publik. Malah sebaliknya. "Bahkan, hal itu justru memperteguh keyakinan ijazah Jokowi palsu."
Di akhir tulisannya, ia menyampaikan apresiasi pada LISA. Meski diblokir atau ditarik, kejujuran sistem AI itu telah menyebar.
"Sabarlah LISA UGM. Kejujuranmu, tak membuatmu dibenci rakyat. Meski di Banned, namun kejujuran mu telah viral dan menambah keyakinan rakyat atas kepalsuan ijazah Jokowi."
Begitulah. Satu percakapan dengan AI memantik perdebatan panjang yang ternyata jauh lebih rumit dari sekadar salah data.
Artikel Terkait
Kosongnya Kursi Wamenkeu Picu Gelombang Spekulasi Reshuffle
Sejarawan Soroti Menteri Muda: Kematangan Tak Bisa Dibeli dengan Jas
DPR Soroti Menteri PU yang Terbata-bata Saat Paparkan Anggaran Bencana
Prodem Kirim Surat Tegas ke Istana: Polri Harus Tetap di Bawah Presiden