Kronologi Kesurupan Massal di Pabrik Konveksi Bogor: Diawali Hujan Deras dan Puting Beliung
Peristiwa kesurupan massal di sebuah pabrik konveksi di Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, menjadi sorotan publik. Kejadian pada Kamis (17/10/2025) malam itu menciptakan kepanikan di kalangan karyawan, diperparah dengan kondisi lokasi yang minim pencahayaan dan diiringi hujan deras.
Video Viral dan Suasana Mencekam di Pabrik
Rekaman video yang tersebar luas di media sosial mengabadikan suara tangisan histeris, teriakan, dan lantunan dzikir yang saling bersahutan dari para pekerja. Suasana di dalam pabrik tiba-tiba berubah menjadi penuh kepanikan. Saksi mata menyebutkan mayoritas korban kesurupan adalah pekerja perempuan yang sedang berjaga malam hari.
Kronologi Lengkap Peristiwa Kesurupan Massal
Menurut Kapolsek Cibungbulang, Kompol M. Heri Hermawan, kronologi kesurupan massal bermula ketika wilayah sekitar diguyur hujan deras disertai angin kencang. Sesaat setelah hujan deras, sebuah pohon di sekitar pabrik tumbang akibat puting beliung.
Tak lama setelah pohon tumbang, sejumlah pekerja mulai menunjukkan gejala kesurupan secara bersamaan. "Akibat puting beliung, pohon tumbang, setelah itu orang-orang pada kesurupan," jelas Heri seperti dikutip dari Tribunnews.com.
Kondisi Gelap Gulita dan Kekacauan
Selain menumbangkan pohon, hujan deras disertai petir menyebabkan padamnya aliran listrik. Lampu pabrik mati total menciptakan kondisi gelap gulita yang semakin menegangkan. Situasi semakin mencekam ketika terdengar jeritan dari beberapa karyawan yang tiba-tiba kehilangan kesadaran dan berteriak tanpa kendali.
Dalam video amatir yang beredar, terlihat beberapa karyawan berusaha menenangkan rekan-rekannya yang diduga kesurupan. Mereka tampak panik mencari pertolongan di tengah suara tangis dan tawa melengking yang bersahutan, sementara beberapa orang lain melantunkan dzikir keras-keras untuk menenangkan situasi.
Proses Penanganan dan Kondisi Terkini
Setelah beberapa saat kejadian berlangsung, warga sekitar datang memberikan bantuan. Mereka memanggil "orang pintar" atau tokoh spiritual setempat untuk menenangkan para korban. "Sama warga yang 'pinter' dipanggil. Sudah aman, sudah enggak kesurupan lagi, malam saja," tutur Heri.
Peristiwa kesurupan massal di Bogor ini berhasil ditangani tanpa korban luka fisik. Insiden ini menjadi pelajaran penting mengenai kondisi kerja dan faktor lingkungan yang dapat memengaruhi psikologis pekerja.
Artikel Terkait
Dari Suara Aneh hingga Laporan Hukum: Kronologi Bocornya CCTV Rumah Inara Rusli
Jangan Beli Buku hingga Jauhkan Sapu: Pantangan Unik Sambut Imlek 2026
Dedi Mulyadi Siapkan 3.000 Lowongan Kerja, Utamakan Lulusan SMK Jabar
Dedi Mulyadi Dikritik Usai Turun Langsung Evakuasi Korban Longsor