Merah, Reuni, dan Harapan: Mengulik Makna di Balik Ritual Imlek 2026

- Kamis, 08 Januari 2026 | 05:15 WIB
Merah, Reuni, dan Harapan: Mengulik Makna di Balik Ritual Imlek 2026
Menyambut Imlek 2026: Menelisik Makna di Balik Tradisi

Menjelang Imlek 2026: Ritual dan Makna yang Mengikat

Tanggal 17 Februari 2026 nanti, suasana merah dan riuh rendah akan kembali menyapa. Inilah beberapa tradisi yang menjadi napas perayaan itu.

Bagi komunitas Tionghoa di penjuru dunia, Tahun Baru Imlek bukan sekadar pergantian kalender. Lebih dari itu, ini adalah momen untuk merawat ikatan, menghormati leluhur, dan menabur harapan. Serangkaian ritual pun dilakukan, masing-masing punya cerita dan filosofinya sendiri.

Mari kita mulai dari yang paling dasar: bersih-bersih. Beberapa hari sebelum hari H, rumah-rumah biasanya ramai dengan aktivitas menyapu, mengepel, dan membereskan sudut-sudut yang sering terlupakan. Ini bukan sekadar soal kebersihan fisik. Banyak yang meyakini, tradisi ini adalah cara simbolis untuk mengusir energi buruk dan nasib sial dari tahun sebelumnya. Dengan rumah yang bersih, jalan bagi keberuntungan untuk masuk di tahun baru pun terbuka lebar.

Setelah bersih, giliran menghias. Warna merah mendominasi segala dekorasi, dari lampion yang digantung di pintu hingga kertas hiasan di jendela. Warna ini bukan pilihan sembarangan. Dalam kepercayaan, merah adalah warna yang mampu mengusir roh-roh jahat dan makhluk halus pengganggu. Jadi, selain meriah, dekorasi serba merah itu punya fungsi perlindungan.

Mengenang yang Telah Tiada

Perayaan ini juga melibatkan mereka yang sudah tidak lagi secara fisik hadir. Sebelum pesta kembang api dan makan besar, banyak keluarga yang menyempatkan diri ziarah ke makam leluhur. Mereka membawa persembahan, seringkali berupa makanan kesukaan almarhum. Ritual ini adalah pengingat halus bahwa Imlek dirayakan oleh seluruh keluarga, baik yang masih hidup maupun yang telah berpulang. Sebuah cara untuk menjaga ingatan dan rasa hormat tetap hidup.

Malam yang Paling Ditunggu

Momen reuni dan kebersamaan di malam tahun baru seringkali menjadi kenangan yang paling melekat.

Nah, ini mungkin inti dari segalanya: makan malam bersama. Biasanya diadakan pada malam sebelum tahun baru, acara ini adalah puncak dari kerinduan akan kebersamaan. Semua anggota keluarga, dari yang tua hingga yang paling muda, berkumpul. Meja bundar dengan taplak merah menjadi pusatnya, simbol kesatuan dan kelengkapan. Di sanalah cerita-curah, tawa, dan hidangan lezat berpadu menjadi satu. Bagi perantau, momen inilah yang paling dirindukan.

Angpao: Lebih dari Sekadar Uang

Lalu, ada tradisi yang paling dinanti-nanti oleh anak-anak dan yang masih lajang: bagi-bagi angpao! Amplop merah berisi sejumlah uang ini bukan sekadar hadiah materi. Pemberiannya punya aturan tak tertulis; umumnya dari mereka yang sudah berkeluarga kepada kerabat yang lebih muda dan belum menikah.

"Memberi angpao itu harapannya sederhana: semoga si penerima menjalani tahun depan dengan lebih bahagia, terlindungi, dan penuh rezeki," begitu kira-kira keyakinan yang dipegang banyak orang.

Jadi, uang di dalamnya memang penting, tapi warna merah amplop dan niat baik yang menyertainya justru yang dianggap membawa berkah.

Kemeriahan di Ruang Publik

Tarian singa atau barongsai adalah pertunjukan publik yang selalu menarik perhatian, dipercaya membawa keberuntungan.

Suasana Imlek tak lengkap tanpa bunyi petasan yang memekakkan telinga dan pertunjukan barongsai yang memukau. Dulu, petasan dinyalakan dengan keyakinan bisa mengusir Nian, monster jahat menurut legenda. Sekarang, fungsinya lebih untuk menyemarakkan suasana.

Sedangkan barongsai, dengan gerakan lincah dan irama gendang yang membahana, biasa digelar di pusat perbelanjaan atau lapangan umum. Setiap gerakannya penuh arti, dan kehadirannya di suatu tempat diyakini bisa menyebarkan energi keberuntungan untuk tahun mendatang.

Jadi, itulah sekelumit tradisi yang menyemarakkan Imlek. Masing-masing bukanlah ritual kosong. Di baliknya, ada harapan akan permulaan baru, rasa syukur, dan doa untuk masa depan yang lebih baik. Menjelang 17 Februari 2026 nanti, semangat itulah yang akan kembali hidup.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar