“Teknisinya bisa datang ke kami. Ini crucial banget, karena armada niaga tidak boleh berhenti. Harus terus jalan,” katanya.
Cerita serupa datang dari pihak penyewaan kendaraan. Andy Dwi Zatmoko, Direktur Operasional PT Moda, mengungkapkan bahwa 75 persen dari lebih 1.000 unit armadanya adalah Isuzu.
“Kami ikuti permintaan konsumen. Unitnya efisien, network servisnya luas, dan yang paling disukai itu layanan aftersales-nya. Teknisi datang ke lokasi customer, jadi mereka tidak perlu repot ke bengkel,” papar Andy.
Di sisi lain, Isuzu sendiri tak cuma mengandalkan produk. Rian Erlangga dari divisi strategi Isuzu Astra Motor membeberkan kekuatan jaringan mereka: ratusan bengkel dan outlet, ribuan partshop, serta tenaga mekanik yang tersebar hingga ke depo parts di berbagai kota.
“Kami satu-satunya merek yang semua produknya, total 34 varian, sudah bersertifikat TKDN,” tegas Rian.
Tingkat komponen dalam negeri untuk tiap model pun berbeda-beda. Traga paling tinggi, di atas 44 persen, disusul Giga di atas 35 persen, dan Elf 33 persen. Menurut Rian, lokalisasi ini bikin biaya lebih kompetitif dan ketersediaan suku cadang jauh lebih terjamin.
Jadi, persaingan di segmen kendaraan komersial ini memang panas. Tapi di balik angka market share, yang terjadi adalah perebutan kepercayaan dari pelaku bisnis yang mengandalkan kendaraan mereka untuk terus bergerak seperti ekonomi itu sendiri.
Artikel Terkait
Mitsubishi Destinator Gempur Pasar SUV dengan Konektivitas Cerdas
IIMS 2026 Bakal Lebih Meriah, 180 Brand Ramaikan Kemayoran
AHM Buka Servis Gratis dan Salurkan Bantuan untuk Korban Banjir-Longsor di Sumatera
Dari Bensin ke Listrik: Kisah Driver Ojol yang Hemat Rp 45 Ribu Sehari