Real Madrid Krisis Usai Gagal Total Musim Ini, Perez Tolak Mundur dan Kembali Serang Barcelona soal Kasus Negreira

- Kamis, 14 Mei 2026 | 18:00 WIB
Real Madrid Krisis Usai Gagal Total Musim Ini, Perez Tolak Mundur dan Kembali Serang Barcelona soal Kasus Negreira

Kekalahan menyakitkan dari FC Barcelona dalam lanjutan El Clasico tidak hanya menggagalkan peluang Real Madrid mempertahankan gelar juara LaLiga, tetapi juga memastikan bahwa Los Blancos akan mengakhiri musim 2025/2026 tanpa satu pun trofi. Situasi ini memicu krisis multidimensi di tubuh klub, mulai dari desakan agar Presiden Florentino Perez mundur hingga perdebatan sengit soal potensi kembalinya Jose Mourinho ke kursi pelatih. Tekanan semakin memuncak menjelang duel kontra Real Oviedo di Santiago Bernabeu dini hari nanti, yang kini menjadi ajang penyelamat harga diri tim.

Musim yang diawali dengan ekspektasi tinggi ini berubah menjadi salah satu periode paling kelam dalam era kedua kepemimpinan Florentino Perez. Pukulan telak datang pada 11 Mei lalu saat Real Madrid takluk 0-2 dari Barcelona di Camp Nou. Sebelumnya, mereka juga tumbang 2-3 dari rival abadi tersebut pada final Supercopa de Espana di Arab Saudi. Keperihan semakin menjadi setelah Madrid tersingkir di perempat final Liga Champions dan gagal melangkah jauh di Copa del Rey. Kombinasi hasil buruk ini membuat para Madridistas mulai mempertanyakan arah proyek klub untuk musim depan.

Tekanan terbesar kini mengarah kepada Florentino Perez. Namun, pria berusia 79 tahun itu dengan tegas menolak desakan untuk mundur dari jabatan presiden.

“Maaf aku tidak mengundurkan diri. Mereka harus menembakku dulu,” kata Perez seperti dikutip Marca.

Perez bahkan menuding adanya upaya sistematis untuk membentuk opini negatif terhadap dirinya dan Real Madrid.

“Sudah tercipta situasi yang tidak masuk akal, yang dipicu kampanye untuk menciptakan arus opini untuk menentang Real, termasuk menentangku,” ujarnya.

Sementara itu, ketegangan tidak hanya berhenti di internal klub. Florentino Perez juga melancarkan serangan verbal kepada Barcelona dengan kembali menyinggung kasus Negreira yang sempat mengguncang sepak bola Spanyol. Perez menilai Real Madrid selama ini menjadi pihak yang dirugikan, sementara Barcelona disebut mendapatkan keuntungan dari sistem perwasitan.

“Para socios Madrid mendukung saya dalam perang melawan Negreira dan lainnya. Bukan selalu Real Madrid yang rugi, melainkan juga tim lain. Barca selalu diuntungkan. Kita lihat apakah UEFA akan turun tangan menangani masalah ini,” ucap Perez.

Ia bahkan melontarkan sindiran tajam terhadap rival abadinya tersebut.

“Saya tidak datang ke sini agar wasit menjadi kaya raya dari uang Barca,” beber Perez.

Pernyataan itu memicu kontroversi baru karena Barcelona disebut siap melaporkan komentar Perez ke otoritas liga Spanyol.

Di tengah situasi yang memanas, rumor kembalinya Jose Mourinho ke Santiago Bernabeu mulai mencuat. Florentino Perez disebut menjadi sosok yang mendukung ide reuni dengan pelatih asal Portugal itu. Namun, kabar tersebut justru memecah suara pendukung Real Madrid. Sebagian menganggap Mourinho mampu mengembalikan mental juara tim, sementara lainnya menilai era sang pelatih sudah lewat. Perdebatan juga muncul dari kalangan mantan pemain Real Madrid. Ada yang mendukung, tetapi tidak sedikit yang menolak kemungkinan tersebut.

“Aku rasa ada pelatih lain yang lebih cocok duduk sebagai pelatih Real. Ini opini pribadiku. Tidak lebih,” ujar salah satu eks kapten Real Madrid.

Sementara itu, pelatih interim Alvaro Arbeloa memilih fokus menyelesaikan musim dibanding menanggapi rumor Mourinho.

“Kami harus bekerja keras untuk menuntaskan sisa kompetisi dengan cara sebaik mungkin,” tegas Arbeloa.

Laga melawan Real Oviedo di Santiago Bernabeu dini hari nanti bukan sekadar pertandingan biasa bagi Real Madrid. Setelah musim penuh kekecewaan, tiga laga tersisa menjadi kesempatan terakhir menjaga harga diri klub. Arbeloa diperkirakan tetap menurunkan kekuatan terbaiknya, termasuk Kylian Mbappe dan Vinicius Junior di lini depan. Di sisi lain, Real Oviedo datang tanpa tekanan besar. Status sebagai tim papan bawah justru membuat mereka berpotensi tampil lepas di Bernabeu.

Melihat kualitas skuad dan faktor bermain di kandang, Real Madrid masih lebih diunggulkan untuk meraih kemenangan. Namun, tekanan psikologis setelah gagal juara bisa memengaruhi performa Los Blancos. Jika Real Madrid benar-benar mengakhiri musim tanpa gelar, maka ini akan menjadi musim kelima Florentino Perez gagal mempersembahkan trofi selama dua periode kepemimpinannya. Sebelumnya, situasi serupa terjadi pada musim 2004/2005, 2005/2006, 2009/2010, dan 2020/2021. Fakta itu membuat tekanan terhadap manajemen semakin besar, terutama karena Real Madrid dikenal sebagai klub yang menuntut gelar di setiap musim.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar