Sebuah kabar positif menyeruak dari dunia sepak bola nasional. Delapan klub elite Indonesia resmi mengantongi lisensi penuh untuk berlaga di ajang AFC Champions League Two (ACL 2) pada musim 2025/2026, menandai langkah maju dalam upaya memenuhi standar profesionalisme tingkat Asia yang ditetapkan Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC).
Kepastian ini diumumkan oleh Direktur Operasional I.League, Asep Saputra, dalam agenda Club Licensing Cycle 2025/2026 yang digelar di Jakarta, Rabu (13/5/2026). Dari proses evaluasi yang ketat, Persebaya Surabaya menjadi salah satu dari delapan klub yang berhasil meraih status “granted” atau lolos penuh tanpa syarat. Keberhasilan ini menjadi sinyal positif bagi kesiapan klub-klub tanah air dalam menghadapi persaingan internasional, khususnya di kompetisi antarklub Asia musim mendatang.
Lisensi ACL 2 bukanlah sekadar formalitas administrasi belaka. AFC menerapkan standar yang sangat ketat yang mencakup lima aspek utama, yaitu olahraga, infrastruktur stadion, administrasi, legalitas perusahaan, dan kondisi finansial klub. Dari 18 klub yang menjalani proses lisensi, sebanyak 17 klub dinyatakan granted untuk Super League, sementara satu klub, PSBS Biak, belum memenuhi syarat.
“Dari 18 klub yang menjalani lisensi, ada 17 klub yang granted Super League. Satunya tidak adalah PSBS Biak,” ujar Asep Saputra. Status granted penuh menjadi syarat mutlak bagi klub yang ingin mewakili Indonesia di kompetisi AFC. Tanpa lisensi tersebut, sebuah klub tidak dapat berlaga di Asia meskipun memiliki prestasi gemilang di kompetisi domestik.
Delapan klub yang berhasil mengamankan lisensi penuh ACL 2 tersebut adalah PSM Makassar, Persebaya Surabaya, Dewa United, Persik Kediri, Borneo FC Samarinda, Persib Bandung, Persita Tangerang, dan Persija Jakarta. Mereka dinilai telah memenuhi seluruh persyaratan yang ditetapkan dan siap tampil di level Asia.
Sementara itu, di sisi lain, delapan klub lainnya masih harus berbenah. Mereka hanya mendapatkan status “granted with sanctions” atau lolos dengan catatan sanksi administratif. Klub-klub yang masuk dalam kategori ini adalah Bhayangkara Presisi Lampung FC, Arema FC, Semen Padang FC, Madura United, Bali United, Malut United, Persis Solo, dan Persijap Jepara. Status ini menandakan masih ada beberapa aspek yang belum terpenuhi secara sempurna. Klub-klub tersebut diwajibkan melakukan perbaikan dalam tenggat waktu tertentu agar terhindar dari sanksi tambahan yang lebih berat.
Menurut Asep, lisensi klub merupakan indikator penting dalam mengukur profesionalisme sepak bola modern. Ia menegaskan bahwa klub-klub yang bermain di kasta Championship harus segera mengambil lisensi Super League jika berhasil promosi. “Klub-klub Championship jikalau kalian promosi ke Super League tahun depan, maka kalian harus mengambil lisensi Super League. Jadi kalau mereka misalnya klub X dia ngambilnya Championship doang tiba-tiba promosi, dia belum tentu bisa promosi karena lisensi yang dia punya Championship,” kata Asep.
Selain pengumuman lisensi ACL 2, I.League juga memastikan bahwa sebagian besar klub peserta Super League musim depan telah memenuhi syarat untuk tampil di kasta tertinggi Indonesia. Menariknya, tiga klub promosi musim depan, yakni PSS Sleman, Adhyaksa FC, dan Garudayaksa FC, juga telah mengamankan lisensi Super League. Situasi ini membuat kompetisi musim depan diprediksi akan berlangsung lebih kompetitif dan profesional dibandingkan musim-musim sebelumnya. Selain itu, lima klub Championship lain yang juga telah mengantongi lisensi Super League adalah Persipura Jayapura, PS Barito Putera, Deltras FC, PSPS Pekanbaru, dan PSMS Medan.
Di tengah kabar baik tersebut, I.League juga menyoroti ancaman serius bagi klub-klub Championship yang belum memenuhi syarat lisensi. Klub-klub tersebut berpotensi memulai musim dengan hukuman pengurangan poin. Menurut Asep, terdapat 11 klub Championship yang masih bermasalah dalam proses lisensi. Mereka diberi tenggat waktu hingga 22 Mei untuk menyelesaikan kekurangan administrasi dan regulasi.
“Minus berapa? Nah tadi saya di awal bicaranya sebenarnya di regulasi sudah ada buat di Championship. Jika ada satu kriteria yang tidak terpenuhi itu akan minus 1, dua kriteria minus 2, 3 maksimal 5,” tutur Asep. Ancaman pengurangan poin ini tentu menjadi pukulan besar bagi klub yang ingin bersaing memperebutkan tiket promosi ke Super League. Jika gagal memenuhi syarat, posisi mereka bisa langsung tertinggal sejak awal musim dimulai.
Artikel Terkait
Ramadhan Sananta Resmi Tinggalkan DPMM FC, Spekulasi Gabung Persebaya Menguat
Persib Larang Bobotoh ke Parepare demi Hindari Sanksi Berat
Ibunda Pelatih Bojan Hodak Meninggal, Persib Bandung Berduka di Tengah Perburuan Gelar Juara
Messi Kukuh di Puncak Daftar Gaji Tertinggi MLS, Son Heung-min di Posisi Kedua