Iuran Rp2.000 per Hari, Warga Bantaran Sungai di Yogyakarta Renovasi 165 Rumah

- Minggu, 28 Juni 2026 | 01:31 WIB
Iuran Rp2.000 per Hari, Warga Bantaran Sungai di Yogyakarta Renovasi 165 Rumah

Hanya dengan konsistensi iuran Rp2.000 per hari, warga di bantaran Sungai Winongo dan Gajahwong, Yogyakarta, berhasil merenovasi 165 rumah menjadi hunian layak dalam 20 bulan. Gerakan kolektif yang digagas Paguyuban Kalijawi ini lahir dari kesulitan warga mengakses program bantuan perbaikan rumah pemerintah, terutama karena status kepemilikan tanah yang kerap menjadi kendala.

Ketua Paguyuban Kalijawi, Ainun Murwani, mengatakan bahwa solusi untuk masalah pemukiman harus dimulai dari unit terkecil, yaitu rumah. Untuk menyiasati keterbatasan dana, mereka menggunakan sistem yang dekat dengan budaya masyarakat: arisan. "Kami mencoba menggunakan sistem arisan karena itu yang paling disukai masyarakat, terutama ibu-ibu," ujarnya.

Gerakan ini melibatkan warga dari 14 kampung yang dibagi menjadi 15 kelompok. Melalui sistem arisan tabungan bergilir, dana kolektif diputar setiap dua bulan sekali untuk menentukan rumah mana yang akan mendapat giliran renovasi. Dalam setiap pertemuan dua bulanan, warga tidak hanya melakukan pengocokan arisan, tetapi juga berdiskusi menentukan skala prioritas berdasarkan kondisi rumah yang paling mendesak.

Setiap rumah yang terpilih menerima dana renovasi sebesar Rp3 juta. Dana tersebut bersumber dari akumulasi tabungan warga sebesar Rp1,2 juta dan tambahan stimulan dari dana hibah Arkom Indonesia sebesar Rp1,8 juta. Meskipun nominalnya terlihat kecil, dana ini sangat efektif untuk perbaikan krusial seperti ventilasi, atap, dan peninggian bangunan.

Manfaat nyata dirasakan oleh Sudira, salah satu warga yang rumahnya telah direnovasi. "Dulu tidak ada jendela, gentengnya pendek. Sama Kalijawi dikasih dana untuk renovasi," ungkapnya. Sebelum program ini, rumahnya sempit dengan atap rendah dan sirkulasi udara buruk. Selain perbaikan fisik, program ini juga meningkatkan kepercayaan diri warga untuk bersosialisasi.

Menariknya, gerakan ini didominasi oleh kaum perempuan sebagai penggerak utamanya. Selain merenovasi fisik bangunan, ibu-ibu dan anak-anak di bantaran sungai juga diajak melakukan pemetaan wilayah secara sederhana guna menata ulang desain lingkungan mereka agar lebih nyaman.

Aksi nyata dari Yogyakarta ini membuktikan bahwa langkah kecil yang dilakukan secara konsisten melalui semangat gotong royong mampu menciptakan perubahan besar, mengubah tembok-tembok kusam menjadi harapan baru bagi ratusan keluarga.

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags