PSIS Semarang Wajib Berbenah Total demi Promosi, Otavio Dutra Beri Peringatan Keras

- Kamis, 07 Mei 2026 | 15:00 WIB
PSIS Semarang Wajib Berbenah Total demi Promosi, Otavio Dutra Beri Peringatan Keras

Musim yang penuh tekanan akhirnya berhasil dilewati PSIS Semarang. Sempat dibayangi ancaman degradasi dan sorotan tajam sepanjang kompetisi, Laskar Mahesa Jenar mampu bertahan dan menutup musim dengan rasa lega. Namun, bagi klub sebesar PSIS, sekadar bertahan tentu belum cukup. Ambisi yang jauh lebih besar kini mulai disusun sejak dini: kembali menatap kasta tertinggi dan membangun ulang kejayaan yang sempat memudar.

Di tengah proses evaluasi itu, satu nama yang cukup lantang menyuarakan pentingnya pembenahan adalah pemain senior PSIS, Otavio Dutra. Bek naturalisasi yang sarat pengalaman itu menilai PSIS membutuhkan perubahan menyeluruh jika benar-benar ingin kembali bersaing memperebutkan tiket promosi ke Super League musim depan. Menurut Dutra, persoalannya bukan hanya soal mengganti pemain atau mencari pelatih baru, melainkan juga membangun fondasi tim yang lebih matang sejak awal kompetisi.

Dutra melihat persaingan di Liga Championship tidak bisa dipandang ringan. Banyak tim datang dengan kekuatan finansial besar, kedalaman skuad merata, dan proyek jangka panjang yang disusun secara serius. Karena itu, menurutnya, PSIS tidak boleh terlambat bergerak jika ingin kembali naik kasta.

“Kalau PSIS memang mau ke Super League harus banyak berbenah, karena untuk promosi itu tidak mudah. Kita harus punya materi pemain yang lebih bagus. Hal itu juga harus disiapkan jauh sebelum liga mulai,” ungkap Dutra.

Pernyataan itu menjadi gambaran nyata kondisi PSIS saat ini. Klub asal Kota Semarang tersebut memang memiliki basis suporter besar dan sejarah panjang di sepak bola Indonesia. Namun, dalam beberapa musim terakhir, performa mereka belum benar-benar stabil. Pergantian pemain, inkonsistensi permainan, hingga persoalan kedalaman skuad menjadi pekerjaan rumah yang terus muncul dari musim ke musim.

Situasi itu membuat manajemen kini dituntut bergerak lebih cepat. Nama pelatih pun mulai menjadi pembahasan hangat di kalangan suporter. Beberapa figur dinilai cocok untuk membawa PSIS membangun ulang kekuatan, mulai dari pelatih yang sudah berpengalaman di sepak bola Indonesia hingga sosok yang dikenal piawai membangun tim dari bawah. Nama Paul Munster menjadi salah satu yang ikut diperbincangkan. Pelatih asal Irlandia Utara itu dikenal memiliki karakter disiplin dan mampu membangun organisasi permainan yang kuat. Pengalamannya menangani klub-klub Indonesia membuatnya dinilai cukup memahami atmosfer kompetisi nasional yang keras dan penuh tekanan.

Di sisi lain, nama pelatih PSM Makassar, Tomas Trucha, juga mulai mendapat perhatian. Meski masih relatif baru di sepak bola Indonesia, Trucha dianggap mampu menghadirkan pendekatan modern dalam membangun permainan tim. Karakter sepak bolanya yang agresif dan menekankan organisasi permainan dinilai cocok untuk tim yang sedang membangun ulang fondasi seperti PSIS. Namun, siapa pun pelatih yang nantinya datang, Dutra menilai hal paling penting tetap berada pada kesiapan klub secara keseluruhan. Kompetisi panjang membutuhkan lebih dari sekadar nama besar di kursi pelatih. Tim harus dibangun dengan visi yang jelas sejak pramusim.

Hal itulah yang menurut Dutra berhasil dilakukan oleh tim-tim promosi musim ini seperti PSS Sleman dan Garudayaksa. Kedua klub tersebut dinilai bukan sekadar beruntung, melainkan memang menyiapkan diri dengan sangat matang sejak awal musim. Mereka mampu menjaga konsistensi permainan, mempertahankan performa di papan atas, serta memiliki kedalaman skuad yang memadai untuk menghadapi tekanan kompetisi panjang. Bahkan sejak awal musim, PSS Sleman maupun Garudayaksa sudah menunjukkan identitas permainan yang jelas. Mereka tidak hanya mengejar kemenangan sesaat, tetapi membangun ritme kompetitif yang stabil hingga akhir musim.

PSIS, menurut Dutra, harus belajar dari situasi tersebut. Selama musim ini, Mahesa Jenar memang beberapa kali memperlihatkan potensi besar. Ada momen ketika permainan tim terlihat solid dan menjanjikan. Namun, di sisi lain, inkonsistensi masih menjadi masalah utama. Ketika momentum positif mulai tercipta, performa justru kembali menurun pada pertandingan berikutnya. Hal seperti itulah yang membuat PSIS sulit bersaing di papan atas secara konsisten.

Karena itu, evaluasi musim ini diperkirakan tidak akan berjalan biasa-biasa saja. Perombakan skuad berpotensi dilakukan, termasuk dalam menentukan pemain asing, mempertahankan pemain senior, hingga mencari sosok muda yang lebih lapar dan kompetitif. Di tengah ketidakpastian itu, masa depan Otavio Dutra sendiri ternyata juga belum sepenuhnya jelas. Meski menjadi salah satu pemain senior yang berperan penting membantu PSIS keluar dari tekanan musim ini, ia mengaku belum mengetahui apakah akan tetap berseragam Mahesa Jenar pada musim depan.

Bek berusia 41 tahun tersebut mengungkapkan bahwa dirinya sudah menerima sejumlah tawaran dari klub lain. Namun, untuk saat ini, ia masih ingin menenangkan diri sebelum menentukan keputusan berikutnya.

“Saya belum tahu juga tahun depan tetap di PSIS atau tidak. Puji Tuhan saya sudah punya beberapa tawaran juga dari tim lain. Saya akan lihat nanti apa yang terbaik untuk saya. Mungkin dua minggu, tiga minggu ke depan baru saya akan lihat saya akan ke mana,” pungkasnya.

Situasi Dutra seakan menjadi simbol fase transisi yang sedang dialami PSIS Semarang. Klub ini tengah berada di persimpangan penting: tetap berjalan dengan pola lama atau benar-benar melakukan pembenahan besar demi kembali ke level tertinggi sepak bola Indonesia. Bagi suporter Mahesa Jenar, harapan itu tentu masih sangat besar. Mereka ingin melihat PSIS bukan sekadar bertahan hidup di kompetisi, tetapi kembali menjadi kekuatan yang disegani. Untuk mewujudkan itu, musim depan akan menjadi awal dari ujian sesungguhnya.

Editor: Hendra Wijaya

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar