HARIAN, BANDUNG – Bobotoh pasti masih merasakan getirnya. Persib Bandung cuma bisa pulang dengan satu poin usai bertandang ke markas Dewa United di Banten International Stadium, Senin kemarin. Skor akhir 2-2, tapi nuansanya benar-benar seperti kekalahan. Yang bikin panas, kemarahan pendukung setia itu bukan ke pemain lawan, melainkan ke wasit Yoko Supriyanto yang dituding sebagai biang kerok kegagalan Maung Bandung meraih kemenangan.
Drama sudah terasa sejak awal. Persib malah kebobolan duluan, bahkan dua kali. Alex Martins membukakan skor di menit ke-24, disusul mantan anak buah mereka sendiri, Ricky Kambuaya, yang memperbesar keunggulan tuan rumah pada menit ke-61. Situasi mulai berubah ketika Martins justru diusir wasit dua menit berselang. Keunggulan jumlah pemain dimanfaatkan Persib. Thom Haye meredam penalti di menit 77, lalu Andrew Jung menyamakan kedudukan menjelang laga usai.
Comeback memang heroik. Tapi, hasil imbang ini terasa pahit. Apalagi posisi Persib di puncak klasemen jadi makin rawan, karena jarak dengan Borneo FC di bawahnya kini cuma tinggal dua poin.
Sorotan Tajam ke Wasit
Kekecewaan itu meledak di media sosial. Bobotoh ramai-ramai mengkritik kinerja Yoko Supriyanto. Mereka merasa wasit itu mengabaikan beberapa kejadian penting, terutama proses gol pertama Dewa United yang diyakini sudah keluar lapangan lebih dulu.
Unggahan resmi klub pun dibanjiri komentar pedas.
"@pssi @erickthohir itu wasit gimana pak bola udh out yaelahh handball disahkan gol nya ampun gimana mau maju sepakbola di negara," tulis @ayunurmalawinaa.
Akun @hmdhnry2 lebih singkat, "Hanya tim wasit yg bisa ngalahin Persib, BYEE."
Sementara @bayuuuu.7 berkomentar dengan nada sinis, "Wasitmah apal eta bola geus out jeng handball, ngan aya sebab di tukangeun…"
Tak cuma wasit, pertahanan Persib sendiri juga dituding bermasalah. "Kebobolan pertama jelas haram ya buat yg nnton, goal kedua blunder dri sang goat kita lord julio," tulis @ptr4.frnd_.
Catatan Sang Pengadil
Sebenarnya, nama Yoko Supriyanto bukan hal baru buat Persib. Wasit asal Sumatera Barat ini pernah memimpin kemenangan Persib atas Madura United awal tahun ini. Tapi, reputasinya dikenal sebagai pengadil yang gampang sekali mengeluarkan kartu.
Lihat saja statistiknya musim ini. Di Liga 1, dari 6 laga yang dia pimpin, sudah ada 28 kartu kuning dan 2 merah. Belum lagi di Liga 2, 9 pertandingan menghasilkan 41 kuning. Kalau dijumlah sepanjang kariernya, rata-ratanya nyaris 5 kartu kuning per pertandingan.
Ketegasannya sering dipuji. Namun, itu jadi kontroversial ketika keputusan-keputusan krusial di lapangan seperti yang terjadi di laga kontra Dewa United justru dianggap melenceng.
Ambisi yang Tersendat
Poin yang tercecer ini jelas jadi ganjalan. Musim depan, misi Persib sebenarnya besar. Juara Liga 1 akan membuka pintu ke empat kompetisi sekaligus: tentu saja Liga 1 Indonesia, lalu AFC Champions League Two, ASEAN Club Championship, plus satu turnamen baru yang masih digodok PSSI dan LIB.
Peluang itu masih terbuka. Tapi, hasil seperti kemarin jadi alarm. Seperti komentar @shann20_, "Nuhun Sib, tapi wajib evaluasi!! Permainan agak delay dan monoton."
Jalan masih panjang. Jika ingin tiket ke ajang Asia dan ASEAN itu aman, Persib harus cepat berbenah. Baik dari sisi konsentrasi pertahanan, maupun mental menghadapi keputusan wasit yang kerap tak menguntungkan. Waktunya tak banyak.
Artikel Terkait
Manchester United Siapkan Tawaran €40 Juta untuk Prospek Muda Brasil Eduardo Conceição
Persib dan Borneo Siap Tempur di Enam Laga Penentu Gelar
PSM Makassar Hadapi Persik Kediri dalam Laga Hidup-Mati di Parepare
Manchester United Incar Aurelien Tchouameni untuk Perkuat Lini Tengah