Legenda PSM: Kekalahan 0-1 Indonesia Tak Gambarkan Permainan yang Setara Lawan Bulgaria

- Selasa, 31 Maret 2026 | 19:00 WIB
Legenda PSM: Kekalahan 0-1 Indonesia Tak Gambarkan Permainan yang Setara Lawan Bulgaria

JAKARTA – Kekalahan tipis di final FIFA Series 2026 ternyata tak menghalangi pujian mengalir untuk Timnas Indonesia. Yang menarik, justru dari kekalahan 0-1 dari Bulgaria itu, muncul pengakuan bahwa performa skuad Garuda sebenarnya setara. Begitulah pandangan Luciano Leandro, legenda PSM Makassar. Menurutnya, hasil akhir itu sungguh tak mencerminkan kualitas yang ditampilkan di lapangan.

Laga panas itu berlangsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Senin malam lalu. Suasana sempat mencekam ketika wasit menunjuk titik putih di menit ke-37. Setelah dicek VAR, pelanggaran Kevin Diks terhadap Zdravko Dimitrov di kotak penalti dinyatakan sah. Marin Petkov yang maju sebagai eksekutor tak menyia-nyiakan peluang itu. Gol penaltinya, satu-satunya dalam pertandingan, akhirnya memutuskan nasib Indonesia.

Menurut Luciano, segalanya berubah setelah Bulgaria unggul. Mereka bermain jauh lebih disiplin dan tertutup. Organisasi pertahanan yang mereka bangun rapat-rapat, membuat serangan Indonesia seperti mentok. Sulit sekali menembusnya.

“Meski hanya satu gol, Bulgaria mampu menjaga pertahanan dengan baik setelah unggul, sehingga serangan Indonesia sulit berkembang,” ujarnya.

Dominan, Tapi...

Kalau dilihat dari gelaran pertandingan, terutama di babak kedua, Indonesia justru yang lebih mendominasi. Diteriakkan puluhan ribu suporter di tribun, tekanan demi tekanan dilancarkan. Sayangnya, semua itu mentah di depan gawang. Penyelesaian akhir jadi masalah yang nyata.

Luciano melihat pertandingan ini berjalan sangat seimbang dari segi fisik dan intensitas. Tapi ya itu, efektivitas jadi penentu. Satu sisi bisa memaksimalkan momen, sisi lain gagal total.

“Indonesia sudah mencoba menekan di babak kedua, tetapi gagal memaksimalkan peluang. Pertandingan berjalan seimbang, namun tidak mengubah skor,” jelasnya.

Memang ada peluang yang bikin deg-degan. Tendangan Ole Romeny, misalnya, masih membentur mistar. Belum lagi sundulan Rizky Ridho di menit-menit akhir yang cuma mengenai tiang. Sedikit saja nasib berpihak, hasilnya bisa berbeda.

Angka-Angka yang Menipu

Statistik pertandingan malah bikin geleng-geleng. Indonesia menguasai bola hingga 71 persen, sementara Bulgaria cuma 29 persen. Operan yang dilakukan skuad Garuda juga jauh lebih banyak: 569, dengan 489 di antaranya akurat. Jelas dominasi yang tak terbantahkan.

Tapi sepakbola memang bukan cuma soal penguasaan bola. Bulgaria bermain efisien sekali. Dari sembilan percobaan, empat mengarah tepat ke gawang. Bandingkan dengan Indonesia yang cuma menghasilkan enam tembakan, dan cuma satu yang on target. Itu yang bikin beda.

Bagi Luciano, skor 0-1 ini sungguh menyesatkan. Ia bersikeras bahwa Indonesia tampil sejajar, bahkan mampu memberi perlawanan sengit pada tim Eropa yang ranking FIFA-nya lebih tinggi.

“Skor ini tidak menggambarkan kualitas sebenarnya. Indonesia bermain setara melawan tim Eropa,” tegasnya.

Jadi, meski trofi tak berhasil dibawa pulang, ada sesuatu yang lebih berharga dari malam itu: keyakinan. Penampilan Timnas Indonesia menunjukkan progres yang nyata. Mereka semakin kompetitif, dan itu sinyal positif untuk masa depan. (")

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar