JAKARTA – Keputusan John Herdman untuk tidak membawa seorang playmaker murni ke skuad Timnas Indonesia untuk FIFA Series 2026? Langsung saja menimbulkan tanda tanya besar. Tapi tunggu dulu. Di balik langkah yang terkesan nekat ini, rupanya ada strategi tersembunyi yang bisa mengubah total cara main Garuda.
Turnamen edisi Maret 2026 ini memang jadi lembaran baru. Di bawah Herdman, lini tengah tim yang biasanya mengandalkan satu kreator, tiba-tiba terlihat kosong. Dari 24 pemain yang dipanggil, tak ada satu pun sosok playmaker klasik. Itu sinyal kuat. Pelatih asal Inggris itu sedang menyiapkan sesuatu yang berbeda.
Ujian pertama akan datang saat Indonesia berhadapan dengan Saint Kitts and Nevis di Stadion Utama Gelora Bung Karno. Pertandingan itulah yang akan menjawab, bagaimana konsep tanpa playmaker ini benar-benar berjalan di lapangan hijau.
Tanpa sosok kreator tunggal, permainan Garuda diprediksi bakal mengandalkan kolektivitas. Fokusnya bergeser. Di lini tengah, Joey Pelupessy dan Ivar Jenner akan memegang peran kunci. Keduanya bukan tipikal pemain yang gemar membuat assist spektakuler. Mereka lebih dikenal sebagai pekerja keras, kuat dalam perebutan bola, dan distribusi yang efektif. Tugas mereka lebih kepada menjaga keseimbangan tim dan mengatur irama permainan. Jadi, stabilitas lebih diutamakan ketimbang eksplorasi individual.
Di sisi lain, fleksibilitas pemain jadi senjata utama Herdman. Lihat saja nama-nama seperti Jordi Amat, Calvin Verdonk, dan Nathan Tjoe-A-On. Mereka bisa diplot di beberapa posisi. Fleksibilitas semacam ini memungkinkan tim beradaptasi dengan cepat, terutama dalam momen transisi yang krusial.
Lantas, apakah kreativitas hilang sama sekali? Tidak juga. Beckham Putra masih bisa diandalkan untuk peran itu, meski di klub dia lebih sering menghuni sayap. Beberapa pemain muda lain juga punya potensi untuk menyumbang sentuhan kreatif saat dibutuhkan.
Intinya, strategi ini mengarah pada permainan yang lebih cepat dan langsung. Bola tidak akan terlalu lama 'dipermainkan' di lini tengah. Begitulah kira-kira. Alih-alih, bola akan segera digiring ke depan untuk menciptakan peluang. Transisi, baik dari bertahan ke menyerang atau sebaliknya, menjadi kunci segalanya.
Fakta bahwa skuad ini minim pemain dengan dribel mumpuni juga memperkuat arah perubahan ini. Herdman jelas lebih memprioritaskan kekuatan fisik, disiplin taktik, dan kerja sama tim ketimbang mengandalkan kecemerlangan satu dua individu.
Artikel Terkait
Veda Ega Pratama Ukir Sejarah, Pembalap Indonesia Pertama Podium di MotoGP
Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts dan Nevis dengan Selisih Nilai Pasar Pemain 50 Kali Lipat
Eredivisie Tegaskan Tak Akan Ulangi Pertandingan Meski Status Pemain Dipertanyakan
Kiandra Ramadhipa Siap Berlaga di FIM Moto3 Junior World Championship 2026