JAKARTA Munculnya bintang baru di arena balap motor Indonesia selalu jadi momen istimewa. Kali ini, sorotan tertuju pada Veda Ega Pratama. Namanya tak lagi sekadar pelengkap daftar peserta, tapi mulai menggeliat sebagai ancaman serius di kelas Moto3.
Podium di Brasil 2026 tentu saja jadi momen penting. Tapi bagi Doni Tata Pradita, mantan pembalap yang pernah merasakan pahit getirnya dunia balap, capaian itu lebih dari sekadar hasil akhir. Ia melihat sesuatu yang lebih dalam: kekuatan mental Veda.
“Kalau saya lihat dari mentalnya, dia sangat percaya diri. Saat balapan berani fight dan punya fighting spirit yang bagus,”
kata Doni, seperti dikutip Antara, Rabu lalu.
Pujian itu bukan datang dari sembarang orang. Doni adalah bagian dari generasi perintis yang merasakan langsung betapa kejamnya persaingan di level dunia. Apa yang ia tangkap dari Veda adalah sesuatu yang dulu sering kurang: keberanian untuk menyerang, bukan cuma bertahan.
Dan itu terlihat jelas di Autódromo Internacional Ayrton Senna.
Balapannya jauh dari sempurna. Veda sempat tercecer, kehilangan posisi bagus, dan sempat hilang dari perburuan podium. Justru dari situ karakternya terbaca. Di lap-lap akhir, ketika tekanan memuncak dan ruang untuk salah hampir tak ada, anak 17 tahun itu memilih untuk menekan gas. Bukan pilihan yang biasa untuk seorang debutan.
“Di Brasil dia terlihat lebih percaya diri dan sudah memahami peta kekuatan lawan. Di lap terakhir dia berani menyerang dan akhirnya bisa masuk tiga besar,”
tambah Doni.
Memahami ‘peta kekuatan’ itu bukan cuma tahu siapa yang cepat. Itu soal membaca ritme balapan, menemukan celah, dan memilih timing yang pas untuk menyalip. Itu adalah kematangan yang biasanya butuh waktu lama untuk diasah. Pada Veda, semuanya terasa berjalan lebih cepat.
Kalau dirunut, fondasinya memang tak dibangun dalam semalam. Veda adalah produk sistem pembinaan yang kini lebih terstruktur. Jalurnya bisa dibilang sudah jadi semacam ‘jalan tol’ menuju kejuaraan dunia: lewat Asia Talent Cup, lalu Red Bull MotoGP Rookies Cup, sebelum akhirnya mendarat di Moto3.
Setiap tahapan itu bukan cuma ajang balap, tapi juga sekolah karakter.
“Dia cepat adaptasi dengan sirkuit internasional karena prosesnya sudah benar. Dari Asia Talent Cup, Red Bull Rookies Cup sampai Moto3, jadi memang sudah terlatih,”
jelas Doni.
Adaptasi di sini artinya luas. Bukan cuma hafal tikungan, tapi juga paham karakter lintasan yang berubah-ubah, mengerti bagaimana ban bekerja, sampai bisa komunikasi dengan tim dalam bahasa teknis yang rumit. Banyak pembalap jago yang akhirnya tenggelam karena gagal beradaptasi. Veda, sejauh ini, menunjukkan hal sebaliknya.
Artikel Terkait
PSM Makassar Terancam Eksodus, 11 Pemain Kunci Kontrak Hampir Habis
Barcelona Evaluasi Alternatif Striker di Tengah Kendala Perekrutan Alvarez
Aspar Team Serius Incar Veda Ega Pratama, Kontrak dengan Astra Honda Jadi Kendala
Harry Kane Unggul Jauh dalam Perebutan European Golden Boot 2025/2026