Doni Tata Pradita Soroti Mental dan Proses Veda Ega Pratama Pasca Podium Moto3 Brasil

- Rabu, 25 Maret 2026 | 15:30 WIB
Doni Tata Pradita Soroti Mental dan Proses Veda Ega Pratama Pasca Podium Moto3 Brasil

JAKARTA Munculnya bintang baru di arena balap motor Indonesia selalu jadi momen istimewa. Kali ini, sorotan tertuju pada Veda Ega Pratama. Namanya tak lagi sekadar pelengkap daftar peserta, tapi mulai menggeliat sebagai ancaman serius di kelas Moto3.

Podium di Brasil 2026 tentu saja jadi momen penting. Tapi bagi Doni Tata Pradita, mantan pembalap yang pernah merasakan pahit getirnya dunia balap, capaian itu lebih dari sekadar hasil akhir. Ia melihat sesuatu yang lebih dalam: kekuatan mental Veda.

“Kalau saya lihat dari mentalnya, dia sangat percaya diri. Saat balapan berani fight dan punya fighting spirit yang bagus,”

kata Doni, seperti dikutip Antara, Rabu lalu.

Pujian itu bukan datang dari sembarang orang. Doni adalah bagian dari generasi perintis yang merasakan langsung betapa kejamnya persaingan di level dunia. Apa yang ia tangkap dari Veda adalah sesuatu yang dulu sering kurang: keberanian untuk menyerang, bukan cuma bertahan.

Dan itu terlihat jelas di Autódromo Internacional Ayrton Senna.

Balapannya jauh dari sempurna. Veda sempat tercecer, kehilangan posisi bagus, dan sempat hilang dari perburuan podium. Justru dari situ karakternya terbaca. Di lap-lap akhir, ketika tekanan memuncak dan ruang untuk salah hampir tak ada, anak 17 tahun itu memilih untuk menekan gas. Bukan pilihan yang biasa untuk seorang debutan.

“Di Brasil dia terlihat lebih percaya diri dan sudah memahami peta kekuatan lawan. Di lap terakhir dia berani menyerang dan akhirnya bisa masuk tiga besar,”

tambah Doni.

Memahami ‘peta kekuatan’ itu bukan cuma tahu siapa yang cepat. Itu soal membaca ritme balapan, menemukan celah, dan memilih timing yang pas untuk menyalip. Itu adalah kematangan yang biasanya butuh waktu lama untuk diasah. Pada Veda, semuanya terasa berjalan lebih cepat.

Kalau dirunut, fondasinya memang tak dibangun dalam semalam. Veda adalah produk sistem pembinaan yang kini lebih terstruktur. Jalurnya bisa dibilang sudah jadi semacam ‘jalan tol’ menuju kejuaraan dunia: lewat Asia Talent Cup, lalu Red Bull MotoGP Rookies Cup, sebelum akhirnya mendarat di Moto3.

Setiap tahapan itu bukan cuma ajang balap, tapi juga sekolah karakter.

“Dia cepat adaptasi dengan sirkuit internasional karena prosesnya sudah benar. Dari Asia Talent Cup, Red Bull Rookies Cup sampai Moto3, jadi memang sudah terlatih,”

jelas Doni.

Adaptasi di sini artinya luas. Bukan cuma hafal tikungan, tapi juga paham karakter lintasan yang berubah-ubah, mengerti bagaimana ban bekerja, sampai bisa komunikasi dengan tim dalam bahasa teknis yang rumit. Banyak pembalap jago yang akhirnya tenggelam karena gagal beradaptasi. Veda, sejauh ini, menunjukkan hal sebaliknya.

Doni juga menyoroti perubahan ekosistem pembinaan di dalam negeri. Dulu, perjalanan ke level dunia terasa serabutan dan kurang arah. Sekarang, jalurnya mulai jelas. Pembalap tidak langsung ‘dilempar’ ke arena paling berat tanpa persiapan memadai, tapi ditempa setahap demi setahap.

“Saat ini penjenjangannya sudah bagus. Pembalap ditempa dulu di Asia lalu ke Eropa sebelum ke kejuaraan dunia. Jadi lebih siap,”

katanya.

Poin ini penting. Kesuksesan Veda bukan cuma kisah personal seorang anak ajaib, tapi juga cerminan dari sistem yang mulai berfungsi dengan baik.

Tapi, di balik semua optimisme itu, ada satu tantangan besar: konsistensi.

Moto3 terkenal sebagai kelas yang brutal dan tak terduga. Selisih waktu antar pembalap seringkali sangat tipis, hanya sepersekian detik. Satu kesalahan kecil bisa berakibat fatal, menjungkalkan balapan yang sudah bagus. Dalam dunia seperti ini, satu podium saja belum cukup untuk menyematkan label ‘penantang gelar’.

Perjalanan masih sangat panjang.

Doni paham betul soal itu. Harapannya terdengar sederhana, tapi punya bobot yang dalam: Veda harus bisa menjaga performa di setiap seri, terus belajar, dan jangan cepat berpuas diri.

“Mudah-mudahan dia bisa terus berkembang di setiap seri dan membawa nama Indonesia lebih baik lagi di level dunia,”

harap Doni.

Nah, di sinilah pertanyaan besarnya muncul: sejauh apa Veda bisa melangkah?

Moto3 sering disebut sebagai gerbang. Mereka yang bisa bertahan dan tampil konsisten di sini punya peluang untuk naik ke Moto2, lalu akhirnya ke puncak impian: MotoGP. Podium di Brasil mungkin baru sebuah awal. Tapi dalam skema besar, itu adalah langkah pertama yang sangat krusial. Sebuah tanda bahwa pembalap Indonesia tidak lagi cuma jadi figuran, tapi mulai menulis ceritanya sendiri.

Dan pada akhirnya, seperti yang diingatkan Doni, semuanya kembali ke satu hal yang paling susuk diukur: mental.

Karena di lintasan yang sama, dengan mesin yang nyaris setara, yang membedakan pemenang dan yang lain seringkali bukan siapa yang paling cepat tapi siapa yang paling berani.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar