Optimismenya ini punya dasar. Syamsuddin sendiri dulu memimpin PSM jadi juara saat usianya masih muda, sekitar 34-35 tahun. Usia yang bahkan lebih muda dari banyak pelatih sekarang. Pengalaman pribadinya itu jadi bukti: usia muda bukan halangan. Yang dibutuhkan adalah nyali, kemampuan baca permainan, dan tentu saja, dukungan penuh.
Di sisi lain, sejarah panjang klub ini juga jadi pertimbangan. Berdiri sejak 1915, PSM adalah salah satu institusi sepak bola tertua di negeri ini. Prestasinya tak main-main: tujuh kali juara kompetisi tertinggi, juara Piala Indonesia, dan seabrek trofi domestik lain. Mereka, bersama Persija dan Persib, adalah klub yang belum pernah terdegradasi. Catatan itulah yang justru membuat tekanan di musim sulit seperti sekarang terasa lebih berat.
Namun begitu, PSM bukan cuma sekadar klub bagi warga Sulsel. Ia lebih dari itu.
"PSM adalah simbol kebanggaan dan pemersatu," kata Syamsuddin. Kemenangan tim membawa kebahagiaan kolektif. Kekalahan? Rasa kecewa yang sama dalamnya. Bagi banyak orang di sana, klub ini sudah menyatu dengan identitas dan harga diri mereka. Bukan cuma tontonan akhir pekan.
Kini, di pundak dua pelatih muda itulah harapan besar itu digantungkan. Tugas mereka jelas tidak mudah: mengangkat tradisi kejayaan sekaligus mengarungi krisis yang ada.
Tapi dengan dukungan dari legenda seperti Syamsuddin Umar, dan dengan semangat siri' na pacce yang diusung, ada keyakinan bahwa PSM akan bertahan. Sejarah sudah membuktikan, jiwa juang seringkali lebih penting dari segalanya. Dan jika jiwa itu masih hidup, PSM Makassar akan tetap tegak berdiri di papan atas sepak bola Indonesia.
Artikel Terkait
Roy Keane: MU Perlu Pelatih Kelas Dunia, Bukan Hanya Carrick
Arne Slot Frustrasi, Liverpool Gagal Kembali di Menit Akhir Lawan Tottenham
Lazio Kalahkan AC Milan, Como Hajar AS Roma dalam Drama Klasemen Serie A
Raphinha Cetak Hattrick, Barcelona Gasak Sevilla 5-2 dan Kokohkan Puncak Klasemen