Itulah yang mendasari keputusan radikal manajemen beberapa waktu lalu: melakukan ‘cuci gudang’ dengan mendatangkan 17 pemain baru di tengah musim. Langkah berisiko yang sempat bikin banyak pihak mengernyit.
Tapi, menurut Seslija, itu sebuah kebutuhan mendesak. Dan hasilnya mulai kelihatan. Para pendatang baru menunjukkan sikap profesional yang lain. Beberapa langsung latihan intensif begitu turun dari pesawat.
“Para pemain ini turun dari pesawat, langsung latihan dengan intensitas tinggi dan menjalani pertandingan. Kita bisa lihat bagaimana mereka bertanding dan mereka tidak menyerah,”
katanya. Mentalitas ‘tidak menyerah’ itulah yang akhirnya terpancar jelas saat melibas Bali United.
Di sisi lain, jalan masih panjang. Euforia kemenangan ini harus segera dialihkan ke laga tandang yang tak kalah berat: menghadapi PSM Makassar di Stadion Gelora BJ Habibie, Parepare, awal April nanti. Lawan yang juga sedang berjuang mencari konsistensi.
Fenomena Persis ini sebenarnya cermin dari masalah klasik sepak bola kita. Bukan soal teknik atau taktik semata, tapi lebih sering soal mental. Tim punya kualitas, tapi mudah ciut di bawah tekanan. PSM sendiri sempat merasakannya musim ini.
Jadi, malam kemenangan di Manahan itu barulah sebuah awal. Langkah pertama untuk bangkit. Ujian sesungguhnya ada di Parepare. Kalau bisa meraih poin di sana, Persis bukan cuma menjauh dari jurang degradasi. Mereka akan membuktikan bahwa kebangkitan Laskar Sambernyawa ini bukan sekadar kilasan sesaat, tapi awal dari sebuah perubahan yang sesungguhnya.
Semua mata kini tertuju ke tim asuhan Seslija. Bisakah mereka mempertahankan api yang baru saja mereka nyalakan?
Artikel Terkait
Verstappen Gagal Total di Sprint Race Shanghai, Red Bull Terpuruk
Media Italia Soroti Idzes dan Audero Jelang FIFA Series 2026
Persib Pererat Hubungan dengan Sponsor Lewat Buka Puasa Bersama
Putri Kusuma Wardani Amankan Tiket Final Swiss Open Usai Kalahkan Nozomi Okuhara