Jakarta diguncang aksi teror yang menimpa seorang aktivis HAM. Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS, disiram air keras oleh orang tak dikenal. Kejadian brutal ini langsung memantik reaksi keras dari berbagai kalangan, termasuk dari dunia pers.
Teguh Santosa, Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), tak ragu menyebutnya sebagai serangan terhadap demokrasi. Menurutnya, ini bukan sekadar tindak kriminal biasa. "Tindakan penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus adalah serangan terhadap demokrasi itu sendiri," tegas Teguh, Sabtu (14/3).
Dia melanjutkan dengan nada prihatin, penegakan HAM itu amanat konstitusi. Jadi, siapa pun yang menyerang aktivisnya, pada hakikatnya sedang menyerang prinsip dasar negara kita.
Dia mendesak agar polisi tak berhenti pada penangkapan pelaku lapangan saja. Pola serangannya terlihat rapi, terorganisir. "Saya meminta Polri memastikan pengusutan tuntas hingga ke akar-akarnya. Jangan hanya berhenti di tingkat eksekutor," tegasnya lagi. Baginya, perbedaan pendapat adalah hal wajar dalam demokrasi, bukan sesuatu yang harus dibalas dengan kekerasan fisik yang membungkam.
Lantas, bagaimana kronologi kejadiannya?
Rupanya, teror ini sudah berlangsung beberapa hari. KontraS mencatat, Andrie menerima telepon misterius beruntun sejak 9 Maret. Puncaknya terjadi Jumat malam, usai ia merekam podcast bertema "Remilitarisasi" di kantor YLBHI, Menteng.
Sekitar pukul 23.37 WIB, saat melintas di Jalan Salemba I, nasib naas menimpanya. Sebuah motor yang dibawa dua orang mendekat. Tanpa basa-basi, cairan kimia berbahaya itu disiramkan ke arah wajah dan tubuh Andrie.
Menurut sejumlah saksi, teriakan kesakitan langsung terdengar. Cairannya begitu keras, sampai-sampai pakaian yang dikenakan korban meleleh. Pelaku buru-buru kabur ke arah Salemba Raya, meninggalkan satu barang bukti: sebuah gelas stainless steel.
Saat ini, Andrie Yunus terbaring di RS Cipto Mangunkusumo (RSCM). Kondisinya cukup serius. Tim medis menyebut dia mengalami luka bakar seluas 24 persen, tersebar di area mata, wajah, dada, dan tangan. Enam dokter spesialis dikerahkan. Bahkan, rencana operasi transplantasi membran amnion sedang disiapkan untuk berusaha menyelamatkan jaringan matanya yang rusak parah.
Fakta lain yang menguatkan dugaan motif teror: tak ada satu pun barang berharga Andrie yang hilang. Serangan ini, bagi KontraS, murni upaya intimidasi untuk membungkam suara kritis di negeri ini.
Kejadian ini jelas meninggalkan luka yang dalam. Bukan hanya di tubuh seorang Andrie Yunus, tapi juga pada wajah demokrasi kita.
Artikel Terkait
Kim Jong Un Puji Prajurit Korut yang Pilih Bunuh Diri saat Bertempur di Kursk
Kepala Staf Kepresidenan dan Gubernur Jabar Jenguk Korban Kecelakaan Kereta di Bekasi
Kapolda Sumsel Resmikan SPKT Mapolres Musi Rawas dan Salurkan Bantuan Sosial Sambut Hari Bhayangkara ke-80
BMKG Beberkan Beda Kemarau dan El Nino, Waspadai Dampak Kemarau 2026 yang Lebih Kering dan Panjang