Jakarta diguncang aksi teror yang menimpa seorang aktivis HAM. Andrie Yunus, Wakil Koordinator KontraS, disiram air keras oleh orang tak dikenal. Kejadian brutal ini langsung memantik reaksi keras dari berbagai kalangan, termasuk dari dunia pers.
Teguh Santosa, Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), tak ragu menyebutnya sebagai serangan terhadap demokrasi. Menurutnya, ini bukan sekadar tindak kriminal biasa. "Tindakan penyiraman air keras terhadap Andrie Yunus adalah serangan terhadap demokrasi itu sendiri," tegas Teguh, Sabtu (14/3).
Dia melanjutkan dengan nada prihatin, penegakan HAM itu amanat konstitusi. Jadi, siapa pun yang menyerang aktivisnya, pada hakikatnya sedang menyerang prinsip dasar negara kita.
Dia mendesak agar polisi tak berhenti pada penangkapan pelaku lapangan saja. Pola serangannya terlihat rapi, terorganisir. "Saya meminta Polri memastikan pengusutan tuntas hingga ke akar-akarnya. Jangan hanya berhenti di tingkat eksekutor," tegasnya lagi. Baginya, perbedaan pendapat adalah hal wajar dalam demokrasi, bukan sesuatu yang harus dibalas dengan kekerasan fisik yang membungkam.
Lantas, bagaimana kronologi kejadiannya?
Rupanya, teror ini sudah berlangsung beberapa hari. KontraS mencatat, Andrie menerima telepon misterius beruntun sejak 9 Maret. Puncaknya terjadi Jumat malam, usai ia merekam podcast bertema "Remilitarisasi" di kantor YLBHI, Menteng.
Artikel Terkait
BPBD Agam Siagakan Personel dan Peralatan Antisipasi Bencana Saat Arus Mudik Lebaran
RUU Perampasan Aset Tanpa Vonis Mulai Digodok DPR, Pakar Ingatkan Perlindungan Hak Warga
Gempa M 4,1 Guncang Sukabumi dan Cianjur Dini Hari, Warga Berlarian Keluar Rumah
Operasi Ketupat 2026: Baru 23% Kendaraan Keluar Jakarta, Puncak Mudik Diprediksi Rabu-Jumat