Konglomerasi dan Taipan: Wajah Baru Kepemilikan Klub Sepak Bola Indonesia

- Rabu, 11 Maret 2026 | 23:30 WIB
Konglomerasi dan Taipan: Wajah Baru Kepemilikan Klub Sepak Bola Indonesia

Bali: Model Klub Modern

Bali United sering disebut sebagai klub dengan manajemen paling modern di Indonesia. Klub ini dimiliki Tanuri Group, dengan dukungan jaringan Salim Group. Di bawah Peter dan Yabes Tanuri, mereka berkembang jadi entitas olahraga sekaligus perusahaan publik.

Mereka adalah klub sepak bola pertama yang melantai di Bursa Efek Indonesia. Langkah itu membuat Bali United bukan cuma tim sepak bola, tapi perusahaan yang harus pertanggungjawabkan kinerja keuangannya ke para investor. Model ini mendekatkan kita pada praktik industri olahraga global.

Kebanggaan dari Timur

Sementara di Makassar, PSM punya cerita yang tak kalah kuat. Klub tertua di Indonesia itu dikendalikan Bosowa Group, konglomerasi milik pengusaha Sulsel, Aksa Mahmud.

Melalui Bosowa Sport Indonesia, mereka jadi pemegang saham mayoritas sejak 2015. Beberapa anggota keluarga Bosowa juga terlibat langsung. Salah satunya Sadikin Aksa yang duduk sebagai komisaris utama.

Kehadiran Bosowa membantu PSM bertahan di tengah persaingan finansial yang makin ketat.

Tak Hanya di Kota Besar

Fenomena kepemilikan taipan ini merata. Di Banjarmasin, Barito Putera di bawah naungan Hasnur Group. Perusahaan keluarga ini bisnisnya macam-macam, dari tambang sampai transportasi. Klubnya dikelola Hasnuryadi Sulaiman, putra pendiri yang juga anggota DPR RI.

Di Sleman, PSS punya hubungan dengan jaringan bisnis terkait Medco Group perusahaan energi milik mendiang Arifin Panigoro. Struktur kepemilikannya melibatkan sejumlah perusahaan yang berelasi dengan kelompok tersebut.

Lalu ada Madura United. Klub ini di bawah kendali pengusaha Ahsanul Qosasi lewat PT Garuda Tani Nusantara. Di bawahnya, klub dikenal punya manajemen keuangan yang stabil dan cukup jago menarik sponsor.

Lalu, Apa Artinya Semua Ini?

Cerita-cerita tadi mengarah pada satu titik: sepak bola Indonesia kini makin lekat dengan dunia industri. Para taipan di balik klub tak cuma bawa uang tunai. Mereka juga bawa jaringan, strategi manajemen, dan visi jangka panjang.

Tapi pertanyaan yang sering muncul tetap sama: sebenarnya, siapa yang paling tajir?

Jawabannya mungkin nggak gampang. Dalam sepak bola modern, kekuatan finansial memang penting. Tapi stabilitas manajemen dan kedekatan batin dengan suporter kerap jadi faktor penentu yang lebih kuat.

Karena pada akhirnya, sepak bola bukan cuma soal angka di laporan keuangan. Ia adalah cerita panjang tentang kota, tentang identitas, dan tentang ribuan orang yang percaya bahwa klub kesayangan mereka adalah bagian dari hidup yang tak bisa diganti.

Editor: Redaksi MuriaNetwork


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar