Kabupaten Flores Timur diguncang lagi. Gunung Lewotobi Laki-Laki, yang sudah beberapa waktu menunjukkan gelagat tak tenang, akhirnya erupsi pada Rabu, 11 Maret 2026. Kolom abu yang tebal dan keluar langsung melesat tinggi ke angkasa, mengingatkan warga akan kekuatan alam yang tak terbendung di Nusa Tenggara Timur ini.
Dari pos pengamatan, terpantau kolom abu berwarna kelabu pekat. Tingginya mencapai sekitar 800 meter dari puncak, lalu angin membawanya mengarah ke timur laut dan timur. Situasi ini membuat otoritas mempertahankan status gunung di level II atau waspada. Artinya, masyarakat diminta tetap siaga.
Namun begitu, ancaman tak cuma datang dari atas. Bagi warga di kaki gunung, terutama di Kecamatan Ilebura, masalah lain sudah nyata di depan mata: banjir lahar dingin. Curah hujan yang tinggi belakangan ini mengguyur material vulkanik sisa erupsi sebelumnya. Aliran lumpur dan bebatuan itu pun mengalir deras, menerjang apa saja yang dilintasinya, termasuk pemukiman penduduk.
Salah satu yang merasakan langsung dampaknya adalah Petrus Di Mepuka, warga Desa Lewotobi.
“Rumah saya terendam. Ketinggian laharnya berbeda-beda di setiap ruangan. Kami tidak punya pilihan, terpaksa mengungsi ke rumah saudara dulu untuk menyelamatkan diri,” ujarnya.
Kisah Petrus mungkin hanya satu dari banyak cerita serupa. Di satu sisi, mereka harus waspada terhadap letusan dan hujan abu. Di sisi lain, mereka juga harus berjibaku dengan banjir lahar yang datang tiba-tiba. Kehidupan di lereng gunung aktif memang selalu diwarnai dengan dua sisi itu: harapan dan kegetiran.
Artikel Terkait
Belift Lab Umumkan Lee Heeseung Keluar dari ENHYPEN
Dampak Perang Timur Tengah: Pakistan Tutup Sekolah, Thailand WFH untuk Hemat Energi
Pakistan dan Thailand Terapkan Kebijakan Darurat Hemat Energi Imbas Perang Timur Tengah
Pakistan dan Thailand Terapkan Kebijakan Penghematan Energi Imbas Ketegangan Timur Tengah