Konten Kreator Dikecam karena Sebar Isu Pemerkosaan di Tengah Bencana

- Senin, 08 Desember 2025 | 09:50 WIB
Konten Kreator Dikecam karena Sebar Isu Pemerkosaan di Tengah Bencana

Jakarta - Pernyataan konten kreator Ferry Irwandi yang menyebut-nyebut terjadinya kasus pemerkosaan di lokasi bencana alam Sumatera memantik kecaman keras. Risnauli Siahaan, Ketua Pusdeham Institut, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Baginya, klaim semacam itu bukan cuma menyesatkan, tapi juga melukai hati para korban yang sedang berjuang menghadapi trauma.

“Kami sebagai perempuan, apalagi sebagai perempuan Batak, merasa sangat terpukul,” ujar Risnauli, Minggu (7/12).

Suaranya tegas. “Di tengah situasi duka dan upaya pemulihan, justru muncul narasi yang belum tentu benar. Ini bisa menambah beban psikologis mereka yang sudah menderita.”

Menurut Risnauli, isu kekerasan seksual adalah persoalan serius. Sangat serius. Tidak boleh seenaknya dijadikan bahan konten atau alat untuk membangun opini bahwa negara tutup mata. Kalau memang ada dugaan kejahatan, laporkan saja lewat jalur hukum yang resmi. Jangan langsung diviralkan begitu saja tanpa dasar yang jelas.

“Ini menyangkut martabat korban,” tegasnya.

Di sisi lain, Risnauli menegaskan bahwa klaim "negara tidak hadir" adalah simplifikasi yang menyesatkan. Nyatanya, upaya pemulihan di lapangan melibatkan banyak pihak. Pemerintah, TNI-Polri, relawan, sampai organisasi kemanusiaan, semua bergerak. Mereka bekerja dari evakuasi, distribusi bantuan, sampai layanan kesehatan dan dukungan psikologis.

Mengerdilkan kerja kolektif yang besar itu hanya untuk sekadar framing konten? Itu namanya ketidakadilan informasi.

Risnauli juga mengingatkan soal batas. Kebebasan berekspresi dalam demokrasi bukanlah kebebasan tanpa tapal batas. Setiap ucapan di ruang publik, apalagi dalam situasi darurat bencana, harus mempertimbangkan dampaknya. Dampak sosial, psikologis, bahkan hukum.

“Demokrasi bukan berarti bebas melukai,” tambahnya.

Ia pun mengajak semua konten kreator dan figur publik untuk lebih hati-hati. Lebih empati. Utamakan verifikasi sebelum bicara. Korban bencana butuh penguatan, bukan ketakutan baru. Mereka butuh empati, bukan sensasi.

“Jangan jadikan penderitaan rakyat sebagai panggung personal,” tutup Risnauli.

Sementara itu, Ferry Irwandi dalam unggahannya bercerita soal kabar-kabar "horor" yang didengarnya dari lokasi bencana.

“Ceritain aja lah, tadi aku dikasih voice note, dikasih cerita horor ada pemerkosaan ya,” ucap Ferry, seperti dikutip dari sebuah akun TikTok.

Ia menggambarkan kondisi masyarakat yang sudah porak-poranda. “Manusia dalam kondisi social culture, situasi kelompok masyarakat yang udah separah itu ya dan dalam situasi seburuk itu.”

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar