Jakarta - Pernyataan konten kreator Ferry Irwandi yang menyebut-nyebut terjadinya kasus pemerkosaan di lokasi bencana alam Sumatera memantik kecaman keras. Risnauli Siahaan, Ketua Pusdeham Institut, tak bisa menyembunyikan kekecewaannya. Baginya, klaim semacam itu bukan cuma menyesatkan, tapi juga melukai hati para korban yang sedang berjuang menghadapi trauma.
“Kami sebagai perempuan, apalagi sebagai perempuan Batak, merasa sangat terpukul,” ujar Risnauli, Minggu (7/12).
Suaranya tegas. “Di tengah situasi duka dan upaya pemulihan, justru muncul narasi yang belum tentu benar. Ini bisa menambah beban psikologis mereka yang sudah menderita.”
Menurut Risnauli, isu kekerasan seksual adalah persoalan serius. Sangat serius. Tidak boleh seenaknya dijadikan bahan konten atau alat untuk membangun opini bahwa negara tutup mata. Kalau memang ada dugaan kejahatan, laporkan saja lewat jalur hukum yang resmi. Jangan langsung diviralkan begitu saja tanpa dasar yang jelas.
“Ini menyangkut martabat korban,” tegasnya.
Di sisi lain, Risnauli menegaskan bahwa klaim "negara tidak hadir" adalah simplifikasi yang menyesatkan. Nyatanya, upaya pemulihan di lapangan melibatkan banyak pihak. Pemerintah, TNI-Polri, relawan, sampai organisasi kemanusiaan, semua bergerak. Mereka bekerja dari evakuasi, distribusi bantuan, sampai layanan kesehatan dan dukungan psikologis.
Mengerdilkan kerja kolektif yang besar itu hanya untuk sekadar framing konten? Itu namanya ketidakadilan informasi.
Artikel Terkait
Kepemimpinan PBNU Kembali ke Gus Yahya, Muktamar 35 Dijadwalkan 2026
Kontroversi Video Rektor UGM: Tahun Kelulusan Jokowi Berubah dalam Dua Versi
TPUA Soroti Eggi Sudjana dan Damai Hari Lubis: Karakter Pengkhianat hingga Tudingan Layani Jokowi
Desakan Organisasi Pemuda: Erick Thohir Dinilai Gagal, Minta Kemenpora Dipisah