PSM Makassar Kembali ke Filosofi _Siri na Pacce_ untuk Bangkit dari Krisis

- Senin, 09 Maret 2026 | 14:00 WIB
PSM Makassar Kembali ke Filosofi _Siri na Pacce_ untuk Bangkit dari Krisis

Suasana di tubuh PSM Makassar belakangan ini memang tidak ringan. Bayangkan saja, hasil-hasil yang terus mengecewakan membuat Pasukan Ramang terperosok di zona tak nyaman klasemen Super League. Situasi genting, tekanan datang dari mana-mana. Tapi, manajemen klub ternyata memilih untuk tidak panik. Mereka baru saja mengangkat Zulkifli Syukur sebagai Direktur Teknik sebuah langkah yang oleh banyak orang dianggap sebagai reaksi spontan. Padahal, di dalam internal, keputusan ini adalah bagian dari sebuah proses evaluasi yang lebih panjang dan matang.

Asisten pelatih, Ahmad Amiruddin, mencoba meluruskan pandangan itu. Baginya, kondisi seperti ini butuh kerenangan berpikir, bukan aksi gegabah yang dipicu emosi semata.

“Iya, tekanan itu ada. Tapi kita harus lihat dengan kepala jernih. Target kami jelas: mengembalikan performa terbaik PSM dan bertahan di liga,” tegas Amiruddin.

Di sisi lain, desakan dari luar justru makin keras. Sorotan tajam mengarah ke pelatih kepala Tomas Trucha, terutama di jagat media sosial. Tak sedikit suporter yang secara terbuka menuntut pengunduran dirinya. Ini tentu memantik pertanyaan besar: apa sikap resmi manajemen?

Amiruddin dengan lugas menyatakan bahwa Trucha, hingga detik ini, masih bagian dari tim kepelatihan. “Beliau masih ada dalam struktur. Dari manajemen, keputusan soal ini tidak bisa diambil sepihak. Harus ada tanggung jawab kolektif,” ucapnya.

Menurutnya, akar masalah PSM tidak cuma soal taktik lapangan. Ada hal lain yang ikut berpengaruh. Buktinya, usai pertandingan di Parepare, manajemen dan seluruh pemain langsung menggelar rapat tertutup. Mereka duduk bersama, membicarakan keadaan yang sebenarnya.

“Kami bahas dari akarnya. Apa sih yang sebenarnya terjadi? Bukan cuma urusan teknis,” jelas Amiruddin.

Dan dari diskusi itulah mereka menemukan titik terang. Ternyata, persoalan utamanya ada di mentalitas. Tim dianggap kehilangan karakter, jiwa tempur yang dulu menjadi identitas mereka. Maka, disepakatilah satu solusi: menghidupkan kembali semangat siri’ na pacce, filosofi budaya Makassar tentang harga diri dan kebersamaan.

“Kami sepakat untuk kembali ke slogan itu. Itulah intinya,” kata Amiruddin.

Upaya itu mulai membuahkan tanda. Saat bertandang ke Ternate menghadapi Malut United, Sabtu malam tanggal 7 Maret 2026, PSM tampil dengan wajah berbeda. Pertandingan berlangsung alot dan dramatis, berakhir dengan skor imbang 3-3. Bagi Amiruddin, hasil itu bukan sekadar angka.

“Saya salut sama pemain. Mereka berjuang habis-habisan di Kie Raha. Ini kan laga terakhir sebelum Lebaran, tapi dedikasi mereka tinggi sekali,” ujarnya penuh apresiasi.

Dia menambahkan, meraih satu poin di markas lawan bukanlah hal sepele. Setiap laga punya atmosfernya sendiri, dan poin itu cukup berharga.

Memang, dalam laga di Ternate, Tomas Trucha tidak terlihat di bangku cadangan. Absensinya memicu spekulasi liar tentang masa depannya. Namun manajemen PSM bersikukuh pada pendirian: keputusan besar tidak boleh diambil dengan terburu-buru.

Di tengah hiruk-pikuk tuntutan, klub justru memilih pendekatan yang tenang dan komprehensif. Mereka fokus pada evaluasi menyeluruh dan menjaga stabilitas internal. Mungkin langkah ini tidak akan memberi perubahan instan. Tapi bagi PSM, dalam situasi krisis seperti ini, menjaga keseimbangan justru adalah langkah paling rasional.

Karena dalam sepak bola, yang seringkali dibutuhkan bukanlah keputusan tercepat. Melainkan, keputusan yang paling tepat.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar