Persebaya Dibantai Borneo FC 1-5, Catat Rekor Kebobolan Terburuk Sejak Kembali ke Liga 1

- Senin, 09 Maret 2026 | 14:00 WIB
Persebaya Dibantai Borneo FC 1-5, Catat Rekor Kebobolan Terburuk Sejak Kembali ke Liga 1

Ia tak mau menyalahkan pemain sepenuhnya. Borneo FC memang tampil efektif malam itu: agresif, menang duel, dan punya banyak opsi umpan.

Namun begitu, ada satu persoalan krusial yang makin jelas: transisi permainan Persebaya sangat lemah.

Sistem Tavares mengandalkan transisi cepat, dari bertahan ke menyerang atau sebaliknya. Tapi malam itu, fase itu justru jadi titik terlemah. Kehilangan bola? Lini tengah terlambat menutup ruang. Ingin menyerang? Aliran bola terlalu lambat, membuat lini depan terisolasi.

Bruno Moreira, andalan serangan dengan sembilan gol musim ini, pun tak berkutik. Statistiknya mencengangkan: nol tembakan ke gawang, hanya dua dribel berhasil dari 50 sentuhan bola, dan delapan kali kehilangan bola.

“Ini jelas bukan pertandingan yang biasa. Kami kecewa, tapi harus menerima,” katanya singkat.

Liga masih panjang. Tapi luka di Samarinda harus segera diobati. Pertandingan berikutnya, menjamu Persita Tangerang di Gelora Bung Tomo awal April, jadi ujian pertama.

“Semua pemain perlu merefleksikan pertandingan ini,” kata Bruno.

“Pelatih akan analisis detail, kami diskusi bersama. Lihat apa yang sudah baik, perbaiki yang kurang.”

Di tengah evaluasi, wacana pun muncul. Banyak yang berbisik, Persebaya butuh gelandang kreatif sosok seperti Marselino Ferdinan misalnya yang bisa menghidupkan transisi. Pemain yang mampu menyambung pertahanan ke serangan dengan lebih cair.

Apakah itu solusi? Atau cukup dengan perbaikan struktur yang ada? Itu pertanyaan yang masih menggantung.

Yang pasti, malam di Segiri adalah pengingat keras. Tanpa transisi yang solid, ambisi besar bisa hancur dalam 90 menit.

Editor: Raditya Aulia


Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar