tegas Yenny.
Tindakan tak berhenti di situ. FPTI telah menerbitkan surat keputusan penonaktifan untuk pelatih kepala yang menjadi terduga pelaku. Investigasi internal masih terus berjalan, mendalami dugaan pelanggaran dari sisi etik hingga hukum.
Bagi Yenny, momentum kelam ini harus jadi titik balik. Dia berkomitmen mengevaluasi sistem dan menghadirkan protokol perlindungan (safeguarding) serta whistleblower yang lebih profesional. Prestasi, katanya, tak boleh dibangun di atas penderitaan orang lain.
pungkasnya.
Sementara itu, proses investigasi internal terus berjalan dengan hati-hati. Robertus Robet, anggota Tim Investigasi FPTI, menjelaskan bahwa TPF masih fokus pada pendalaman dari sudut pandang korban. Pendekatan ini sengaja dipilih.
Tujuannya jelas: menjaga sensitivitas dan mencegah trauma ganda. “Kita tahu bahwa tidak mudah bagi korban itu untuk secara terbuka,” ujar Robet. Dia menambahkan, banyak halangan yang muncul akibat sistem nilai dan norma dalam masyarakat. Karena itu, tim mengikuti sensitivitas dan perkembangan emosional korban, tidak serta-merta memaksa.
Suasana di pelatnas kini tentu berbeda. Harapannya, langkah tegas ini bisa memulihkan kepercayaan dan menciptakan lingkungan latihan yang aman, jauh dari rasa takut.
Artikel Terkait
10 Wakil Indonesia Lolos ke 16 Besar All England, Dua Duel Perang Saudara Menanti
Tottenham Hadapi Ancaman Rekor Buruk Saat Jamu Crystal Palace
Persija Terancam Tertinggal, Rizky Ridho Desak Evaluasi Total
Arsenal Kokoh di Puncak, Manchester City dan United Tersandung di Pekan ke-29