Stadion Gelora Bung Tomo bakal jadi saksi sebuah laga yang sarat emosi buat Bernardo Tavares. Bagi pelatih Persebaya ini, lawan Persib Bandung nanti bukan cuma soal tiga poin. Ini lebih personal. Ini soal bayangan masa lalu yang belum juga hilang.
Dulu, saat masih menukangi PSM Makassar, Tavares beberapa kali bersua dengan Bojan Hodak. Hasilnya? Tak pernah manis. Kini, dengan seragam hijau di Surabaya, dia dapat kesempatan baru untuk mengubah narasi itu. Menulis ulang cerita lama dengan tinta yang berbeda.
Tapi, momentum itu datang di saat yang kurang ideal, harus diakui.
Jadwal Persebaya belakangan ini benar-benar padat. Baru saja usai berjibaku melawan Bhayangkara FC dan Persijap Jepara, mereka langsung dihadapkan pada laga berat melawan PSM. Dan sekarang, belum sempat napas panjang, Persib sudah menunggu. Ritme pertandingan yang rapat begini memaksa tim pelatih kerja keras ekstra. Menjaga kondisi fisik pemain itu satu hal, tapi menjaga stabilitas mental mereka di tengah tekanan adalah hal lain yang sama sulitnya.
Buat Tavares, tantangan terbesarnya jelas: bagaimana caranya mempertahankan intensitas permainan dari menit pertama hingga peluit akhir.
“Mempertahankan intensitas penuh selama 90 menit itu tidak mudah. Tapi kami yakin bisa konsisten selama 40 sampai 45 menit, asal fokus kita tidak buyar,” ujarnya.
Pernyataan itu mencerminkan pendekatannya yang pragmatis. Dia realistis, tapi tetap berpegang pada prinsip kontrol permainan.
Kuncinya, menurutnya, ada pada keseimbangan. Persebaya tidak boleh gegabah menyerang sampai lupa diri, tapi juga jangan sampai takut untuk menekan. Dalam duel tingkat tinggi seperti ini, pertandingan sering kali ditentukan oleh detail-detail kecil. Satu kesalahan penempatan badan, satu momen lengah, atau keputusan yang terlambat diambil bisa berakibat fatal.
Apalagi lawannya Persib. Kesalahan kecil hampir pasti langsung dihukum.
Tavares paham betul kualitas tim asal Bandung itu. Mereka punya struktur permainan yang matang dan kedalaman skuad yang merata. Bisa bertahan dengan disiplin baja, tapi juga bisa menyerang dengan efisiensi mematikan. Kombinasi yang bikin banyak tim pusing.
“Kalau kami salah langkah, mereka akan menghukum kami,” katanya, merangkum ancaman terbesar dari tim tamu dengan kalimat singkat.
Artikel Terkait
PSM Makassar Gagal Pertahankan Keunggulan, Imbang 2-2 Lawan Persita
PSS Sleman Kokoh di Puncak, PSIS Semarang Terancam Degradasi
PSM Makassar Hadapi Persita dalam Laga Penuh Tekanan di Stadion Gelora BJ Habibie
Kontingen Indonesia Siap Bertarung di All England 2026