SURABAYA Sepak bola memang aneh. Kadang, tim yang main lebih bagus, punya peluang lebih banyak, malah pulang dengan tangan hampa. Statistik sering tak bisa jelaskan paradoks semacam ini.
Nah, itulah bayangan yang mengganggu Persebaya sekarang. Mereka akan berhadapan dengan Persib Bandung di Stadion Gelora Bung Tomo, Senin depan. Ini bukan cuma sekadar big match biasa. Pertandingan ini bakal jadi ujian nyata buat efektivitas lini depan mereka, yang selama ini produktif bikin peluang, tapi kok ya kurang tajam saat harus membobol gawang lawan.
Soal ketajaman ini jadi perhatian serius, terutama usai laga kontra PSM Makassar. Waktu itu, Persebaya mendominasi. Mereka ciptakan 14 peluang dan melepaskan 20 tembakan! Enam di antaranya mengarah ke gawang. Tapi, cuma satu yang jadi gol. Angka-angka itu seperti cerita lama yang berulang: dominasi tanpa efisiensi.
Sepanjang musim, catatan mereka sebenarnya nggak buruk-buruk amat. Sudah 34 gol tercipta dari 23 laga. Rata-rata 1,5 gol per game. Mereka juga rata-rata melakukan 11 tembakan dan 15 dribel sukses tiap pertandingan. Kreativitas? Bukan itu masalahnya.
Masalahnya ada di rasio konversi. Cuma 13 persen peluang yang berhasil jadi gol. Bahasa kasarnya, terlalu banyak kesempatan yang mubazir. Di kompetisi level atas, selisih tipis semacam inilah yang membedakan tim juara dan tim papan tengah.
Di sisi lain, lawan yang datang minggu depan justru tim dengan pertahanan terbaik. Persib Bandung, sang pemuncak klasemen, cuma kebobolan 11 gol sejauh ini. Itu rekor yang bikin mereka dianggap unit defensif paling solid di liga.
Artinya, ruang buat striker Persebaya akan jauh lebih sempit. Nggak ada ruang untuk ragu. Keputusan harus cepat, tembakan harus presisi. Melawan pertahanan sekompak Persib, peluang kedua itu barang langka.
Pelatih Bernardo Tavares tentu sadar betul dengan persoalan ini. Latihan finishing jadi menu utama dalam sepekan terakhir.
“Mengenai penyelesaian akhir, kami sudah mencobanya dalam minggu terakhir,” akunya.
Tapi Tavares juga punya filosofi sendiri. Buat dia, menciptakan peluang tetaplah fondasi paling penting.
“Ingat, hal tersulit di sepak bola adalah menciptakan peluang,” tegasnya.
Pernyataan itu sekaligus jadi pengingat: Persebaya sebenarnya ada di jalur yang benar. Mereka cuma perlu menyempurnakan bagian akhirnya saja. Sepak bola modern memang menuntut keseimbangan. Dominasi tanpa efisiensi ya cuma jadi angka mati di kertas statistik.
Menariknya, Persebaya justru cukup efektif dalam situasi tertentu. Empat penalti yang mereka dapatkan sepanjang musim ini berhasil semua jadi gol. Mereka juga rata-rata dapat 5,6 tendangan sudut per laga. Bola mati masih bisa diandalkan.
Tapi menghadapi Persib, mereka harus siap dengan permainan cepat. Pertahanan Maung Bandung terkenal disiplin. Mereka memaksa lawannya mengambil keputusan dalam area sempit dan waktu yang mepet. Di sinilah insting dan ketenangan seorang striker benar-benar diuji.
Lalu, ada faktor Gelora Bung Tomo. Suasana di sana hampir selalu jadi energi tambahan bagi Persebaya. Suporter yang menyala-nyala bisa mendongkrak semangat pemain.
Namun begitu, atmosfer saja tidak cukup. Kalau peluang terus-terusan disia-siakan, gelora dukungan itu bisa berbalik jadi tekanan. Sorak-sorai bisa berubah jadi kecemasan yang justru membebani psikologi pemain.
Duel nanti berpotensi jadi titik balik. Bisa juga cuma jadi cermin yang mempertegas problem lama. Kalau rasio konversi mereka membaik, bukan cuma tiga poin yang didapat, tapi juga pernyataan bahwa mereka serius bersaing di papan atas. Sebaliknya, kalau masih gagal, pertanyaan yang sama akan terus bergaung pekan demi pekan.
Pada akhirnya, ini lebih dari sekadar perseteruan angka. Ini pertarungan antara tim yang sedang mencari ketajamannya melawan tim yang sudah menemukan keseimbangan. Antara serangan yang agresif dan pertahanan yang disiplin. Antara harapan puluhan ribu suporter di rumah dan kepercayaan diri sang pemuncak klasemen.
Tavares sudah beri resep di lapangan latihan. Sekarang, semuanya tergantung pada para pemain. Bagaimana mereka menerjemahkan teori itu jadi satu sentuhan tepat di dalam kotak penalti.
Karena dalam sepak bola, jarak antara peluang dan gol seringkali cuma sependek sentuhan yang tepat.
Dan di GBT nanti, satu sentuhan itu bisa menentukan arah musim Persebaya selanjutnya.
Artikel Terkait
Kurniawan Minta Maaf Usai Timnas U-17 Takluk dari Malaysia
Mantan Kiper Arsenal dan Austria, Alex Manninger, Tewas dalam Kecelakaan Kereta Api
Nathan Tjoe-A-On Kembali Bermain Usai Kasus Paspor, Willem II Raih Kemenangan
Pelatih Persija Ingatkan Konsistensi Jadi Kunci Kejar Gelar Juara