TILBURG – Setelah beberapa pekan dicekam ketidakpastian, Nathan Tjoe-A-On akhirnya bisa bernapas lega. Pemain Timnas Indonesia yang membela Willem II itu sudah kembali ke lapangan hijau, usai terjerat kasus administrasi paspor yang sempat menghebohkan Liga Belanda. Dalam laga melawan Almere City, dia langsung berkontribusi untuk kemenangan timnya di divisi dua.
Nathan pun akhirnya angkat bicara. Ada rasa aneh, tapi juga sedikit kelegaan dalam nada suaranya.
“Di satu sisi, itu sangat aneh,” ujarnya, seperti dikutip dari Brabants Dagblad.
“Tapi di sisi lain, semua keributan itu bertepatan persis dengan jeda internasional, ketika saya berada di Indonesia. Jadi, menurut saya, situasinya dibesar-besarkan di Belanda dibandingkan dengan apa yang saya rasakan. Lagipula, saat saya di sana, sudah mulai jelas bahwa solusi akan ditemukan.”
Meski begitu, pengalaman itu jelas meninggalkan bekas. Bagaimana tidak? Dia sempat tidak diizinkan masuk ke fasilitas latihan klub sama sekali, terkatung-katung menunggu kepastian yang tak kunjung datang. Kasus ini sendiri berawal dari laporan NAC Breda ke federasi sepak bola Belanda, KNVB, soal status izin kerja Dean James dari Go Ahead Eagles. Gara-gara itu, imbasnya merembet ke sejumlah pemain keturunan Indonesia lainnya, termasuk Nathan.
Untungnya, badai itu berlalu. “Tapi seluruh masalah itu ditangani dengan baik, oleh orang-orang yang tahu apa yang mereka lakukan,” akunya.
“Itu meyakinkan saya; saya tidak khawatir. Dan ketika saya kembali, semuanya berjalan cukup cepat. Meskipun libur akhir pekan Paskah menghalangi, jika tidak, mungkin akan berjalan lebih cepat lagi. Tapi saya senang bisa bermain lagi sekarang.”
Di balik kata-kata leganya, terselip sentilan halus untuk NAC Breda. Nathan mengaku tak menyangka laporan klub tersebut bisa membawa dampak sebesar ini terhadap kariernya.
“Saya tidak menyangka itu akan menjadi masalah besar; tidak ada yang tahu sama sekali bahwa itu adalah masalah. Tapi ternyata memang menjadi masalah,” katanya.
“Setelah itu, sebagian besar hanya masalah menunggu. Anda mendengar dan membaca berbagai macam hal dan Anda harus menanggapinya dengan serius, jadi Anda terus memikirkannya. Karena Anda tidak langsung tahu di mana posisi Anda.”
Nathan berusaha memahami, tapi tetap tak bisa sepenuhnya menerima. “Begini: wajar jika kami, sebagai pemain yang terdampak, tidak senang dengan hal ini. Terutama mengingat waktu musim ketika semua ini terjadi, dengan pertandingan-pertandingan penting yang akan datang,” ujarnya.
“Saya dapat memahami sampai batas tertentu bahwa klub seperti NAC – yang berada di zona degradasi – akan melakukan apa saja untuk meraih keuntungan. Saya hanya tidak berpikir ini sepenuhnya realistis. Dan saya pikir semuanya menjadi sedikit lebih besar dari yang mereka antisipasi. Jadi pada akhirnya, saya tidak menyalahkan siapa pun, tetapi ini sangat disayangkan.”
Selama masa sulit itu, Nathan tak tinggal diam. Dia menjaga kebugaran dengan berlatih mandiri di sebuah tempat yang dikenalnya. “Seorang pria yang saya kenal baik; pemain sepak bola lain juga pergi ke sana. Saya selalu melanjutkan latihan di sana juga selama musim panas,” ceritanya.
Hasilnya terlihat. “Tentu saja, itu tidak persis sama dengan latihan kelompok. Tetapi itu menunjukkan sesuatu bahwa saya mampu bermain selama sembilan puluh menit melawan Almere City lagi,” pungkasnya penuh keyakinan. Kini, fokusnya hanya satu: sepak bola.
Artikel Terkait
Pelatih Persija Ingatkan Konsistensi Jadi Kunci Kejar Gelar Juara
PSSI Siapkan Kompetisi Baru yang Berjalan Paralel dengan Liga Mulai 2026
NAC Breda Ajukan Banding ke Pengadilan Soal Status Paspor Dean James
Simon Grayson Ungkap Alasan Bergabung dengan Timnas Indonesia