Di sebuah sudut Cimanggis, Depok, ada cerita yang lebih dari sekadar dagang beras. Ini kisah Mardiana. Seorang perempuan yang membuktikan, perubahan hidup bisa dimulai dari ruang belajar, bukan cuma dari kerja keras semata.
Semuanya berawal dari dapur rumahnya. Usaha beras merahnya dulu sama seperti pedagang ultra mikro lainnya: sederhana dan penuh tantangan. Namun, titik baliknya justru datang dari sesuatu yang tak terduga. Bukan semata tambahan modal, melainkan dari serangkaian pelatihan yang ia ikuti bersama PNM Mekaar.
Bagi Mardiana, setiap sesi pelatihan itu benar-benar membuka mata. Mulai dari digital marketing, cara memasarkan produk, sampai mengelola media sosial. Ide-ide segar pun mulai bermunculan di kepalanya. Ia mulai memikirkan cara memperluas jaringan, bahkan mengolah beras merah mentah menjadi produk siap santap yang punya nilai jual lebih tinggi.
"Dari pelatihan, saya jadi tahu ternyata jualan itu bukan cuma soal barang, tapi cara kita menawarkan dan mengemasnya,"
Ucapannya itu sederhana, tapi jadi prinsip utamanya sejak saat itu.
Dengan bekal pengetahuan baru, langkahnya berubah total. Ia tak lagi pasif menunggu pembeli. Mardiana aktif "menjemput bola". Ia rajin mengikuti berbagai bazar, mulai dari acara warga sekitar, kegiatan kelurahan, sampai merambah ke kampus-kampus di Depok dan Jakarta. Setiap pameran ia jadikan laboratorium untuk menguji strategi barunya, sekaligus membaca langsung selera pasar.
Hasilnya? Sebuah inovasi yang simpel tapi efektif. Beras Merah Sosoh “Cak Har” ia sulap menjadi nasi liwet beras merah lengkap dengan lauk pauk. Produk ini tak cuma memenuhi kebutuhan konsumen yang ingin praktis, tapi juga menawarkan pengalaman makan yang berbeda. Keputusan kecil yang lahir dari ruang pelatihan itu, nyatanya membuka pintu rezeki yang lebar.
Perjalanannya kini membawanya ke peran baru. Mardiana dipercaya mengelola kantin di Kantor Kecamatan Cimanggis. Yang menarik, posisi ini tak cuma untuk mengembangkan usahanya sendiri. Ia juga memanfaatkannya untuk memasarkan produk para pelaku usaha lain. Prinsipnya jelas: tumbuh, tapi bersama-sama.
Nasi liwet buatannya kini jadi menu andalan para pegawai di kantor kecamatan. Bahkan rutin dipesan untuk acara-acara bulanan. Dari dapur sederhana, ia kini melayani pesanan harian hingga bulanan. Sistem antar-jemput yang ia terapkan justru membuat hubungan dengan pelanggan terasa lebih akrab dan personal.
Semua pencapaian ini tentu didukung kombinasi tepat antara ilmu dan modal. Pinjaman awalnya cuma Rp2 juta, kini berkembang menjadi Rp7 juta. Tapi bagi Mardiana, angka itu bukan hal utama. Kepercayaan diri dan wawasan yang ia dapatkan jauh lebih berharga untuk terus maju.
Menurut Sekretaris Perusahaan PNM, L. Dodot Patria Ary, fokus pada pelatihan ini memang disengaja.
"Nasabah PNM Mekaar punya potensi yang luar biasa. Kapasitas usaha mereka perlu ditingkatkan lewat pelatihan dan pendampingan. Dari situlah ide-ide baru muncul, nilai produk bertambah, dan pasar jadi lebih luas. Inilah yang kami dorong agar mereka benar-benar naik kelas,"
jelas Dodot.
Ia menambahkan, ketika perempuan diberi akses pengetahuan, dampaknya akan merembet. Tak cuma untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk keluarganya dan lingkungan sekitarnya.
Dalam perjuangannya, Mardiana seperti menghidupkan lagi semangat Kartini di era modern. Bukan cuma tentang emansipasi, tapi lebih pada keberanian untuk terus belajar dan menyesuaikan diri. Ia membuktikan, kemandirian bisa dimulai dari hal-hal kecil, asal ada kemauan untuk berkembang.
Jadi, di Cimanggis ini, dari serangkaian pelatihan dan dapur yang tak pernah sepi, lahir seorang perempuan pengusaha. Ia tak cuma berjualan. Ia berpikir, berinovasi, dan tanpa sadar menginspirasi banyak orang. Sebuah teladan nyata tentang menemukan jalan lewat keberanian mencoba.
Artikel Terkait
Selebgram Inarasati Bantah Tuduhan Perzinaan Usai Diperiksa Polisi
Kemenkop Buka Rekrutmen 30.000 Manajer Koperasi Desa, Pendaftaran 15-24 April 2026
Syifa Hadju Ungkap Alasan Mantap Menikah dengan El Rumi
Clara Shinta Alami Trauma Berat Pascakonflik Rumah Tangga dan Gugatan Rp10,7 Miliar