PSM Makassar Krisis Gol di Liga 1, Ancaman Degradasi Mengintai di Tengah Pembangunan Stadion Untia

- Sabtu, 28 Februari 2026 | 21:00 WIB
PSM Makassar Krisis Gol di Liga 1, Ancaman Degradasi Mengintai di Tengah Pembangunan Stadion Untia
PSM Makassar: Ironi di Balik Megahnya Proyek Stadion Untia

MAKASSAR Ada dua cerita yang sedang ditulis PSM Makassar. Yang pertama, gemuruh mesin proyek Stadion Untia yang terus menggali fondasi masa depan. Yang kedua, adalah sunyi di dalam gawang lawan sebuah krisis ketajaman yang perlahan menggerogoti nyawa tim di Liga 1. Dua narasi ini berjalan beriringan, tapi arahnya terasa saling bertolak belakang.

Rabu malam di Surabaya, 25 Februari lalu, menjadi potret paling jelas dari masalah ini. PSM tumbang lagi, kali ini dari Persebaya dengan skor tipis 0-1. Bukan kekalahan telak, justru itulah yang bikin frustasi.

Pelatih Tomas Trucha tampak lelah di ruang konferensi pers. Suaranya datar, tapi muatannya berat.

"Kami selalu kalah tipis. Ini sangat menyakitkan," ujarnya.

Statistik mungkin tak sepenuhnya jahat. Tim menciptakan 40 peluang masuk ke kotak penalti dan melepaskan 12 tembakan. Tapi angka-angka itu jadi tak berarti. "Kami harus menciptakan peluang bersih dan menyelesaikannya menjadi gol," tambah Trucha. Itulah teka-teki yang belum terpecahkan: bagaimana caranya mengubah dominasi jadi tiga poin?

Reaksi yang Selalu Terlambat

Luka Cumic, salah satu penggerak tim, mengakui ada yang salah dengan mentalitas. Menurutnya, PSM kerap seperti baru tersadar setelah kebobolan. Energi di babak pertama seringkali datar, baru meledak saat situasi sudah sulit.

"Kami baru bereaksi ketika keadaan sudah terlambat," beber Cumic.

Pola itu terulang. Dalam sepuluh laga terakhir, cuma satu kemenangan yang bisa direngkuh. Krisisnya halus, tidak terletak pada pertahanan yang bobol berkali-kali, tapi pada detail-detail kecil: keputusan split-second di depan gawang yang salah, atau sentuhan akhir yang selalu kurang greget.

Manajemen sebenarnya sudah bergerak. Mereka mendatangkan pemain baru untuk memperdalam skuad dan memberi opsi taktik lebih banyak. Secara teori, tim ini lebih seimbang. Tapi di lapangan? Hasilnya belum juga muncul. Setiap pertandingan terasa seperti perjuangan melawan kutukan yang sama: bermain cukup baik, tapi pulang dengan tangan hampa.

Dan ancaman degradasi, yang dulu cuma jadi lelucon gelap di antara suporter, kini mulai terdengar serius. Klasemen tidak berbohong, waktu pun terus menipis.

Mimpi Megah di Atas Tanah Seluas 23 Hektare

Di tengah kegelisahan itu, proyek Stadion Untia justru melaju kencang. Sejak dilantik awal 2025, Wali Kota Munafri Arifuddin dan wakilnya, Aliyah Mustika Ilham, menjadikan pembangunan infrastruktur ini sebagai prioritas. Kawasan di Untia, Biringkanaya, sedang disulap.

Sepanjang tahun lalu, 19 bidang tanah sudah disertifikatkan dengan total luas 7,7 hektare. Nilai asetnya fantastis, lebih dari Rp111 miliar. Rencana besarnya, kompleks stadion modern itu akan menghampar di lahan seluas 23 hektare. Sebuah simbol kemewahan dan ambisi untuk klub sebesar PSM.

Tapi di sinilah ironinya. Stadion megah takkan berarti apa-apa jika tim yang menghuninya terdegradasi. Saat ini, PSM seperti tim yang kehilangan jati diri. Mereka tidak jelek-jelek amat, tapi juga tidak cukup tajam untuk menang. Kondisi 'separuh jalan' ini justru berbahaya, karena masalahnya samar dan solusinya pun jadi kabur.

Lawan Waktu yang Semakin Garang

Liga tidak pernah memberi waktu lama untuk berbenah. Setiap pekan adalah tekanan baru, setiap kekalahan mendekatkan pada jurang.

Tomas Trucha berusaha tetap optimis. "Selalu ada pertandingan berikutnya," katanya mencoba menenangkan.

Namun, kata-kata itu terasa seperti mantra yang mulai kehilangan kekuatannya. Realitas di lapangan bicara lebih keras: kesempatan untuk bangkit benar-benar terbatas.

PSM kini berdiri di persimpangan yang menentukan. Di satu sisi, mimpi akan rumah baru sedang dibangun dengan kokoh. Di sisi lain, mereka harus berjuang mati-matian agar masih layak menempati rumah itu saat selesai nanti.

Jika tren ini tak berbalik, sejarah mungkin akan mencatat ironi paling pahit untuk Juku Eja: memiliki masa depan yang gemilang, tapi kehilangan tanah tempat berpijak hari ini. Dan dalam sepak bola, seperti dalam hidup, bangkit terlambat seringkali berarti tidak bangkit sama sekali.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar