Ironi sepak bola itu kadang tak bersuara. Satu momen, seorang striker jadi pahlawan. Pekan berikutnya, dia bisa hilang begitu saja. Nah, di kompetisi Indonesia, dua penyerang asal Brasil yang sama-sama dijuluki "Tanque" ini sedang merasakan nasib yang benar-benar berbeda.
Di Bandung, Ramon De Souza Andrade sepertinya menemukan kembali sentuhan emasnya. Sementara itu, jauh di Makassar, Alex Tanque masih berjuang melawan kutukan yang paling ditakuti penyerang: kemandulan.
Suasana di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kamis malam 26 Februari 2026, benar-benar elektrik. Persib baru saja menggebuk Madura United lima gol tanpa balas. Di tengah pesta gol itu, Ramon adalah bintangnya. Dua gol yang ia cetak bukan angka biasa. Itu lebih seperti pernyataan: sang predator sudah bangun dari tidurnya.
Dari awal, tekanan dari bobotoh sudah terasa. Setiap serangan disambut gemuruh, memaksa permainan Persib jadi agresif dan penuh keyakinan. Ramon sendiri bermain dengan gaya khas striker Amerika Selatan. Ia tak banyak berlari, tapi gerakannya cerdik. Begitu peluang datang, penyelesaiannya dingin dan mematikan.
Tapi usai laga, ia tak mau terbawa euforia.
"Pertama-tama, terima kasih kepada Tuhan. Saya senang bisa mencetak gol lagi dan membantu tim," ucapnya.
Kalimat singkat itu punya makna dalam. Ia tahu, satu kemenangan besar belum menjamin apa-apa di jalan panjang sebuah musim.
Yang jelas, mesin permainan Persib mulai stabil. Kemenangan telak ini menunjukkan lebih dari sekadar kebangkitan satu pemain. Mereka tampak menemukan ritme. Bola mengalir cepat dari tengah ke depan, menciptakan ruang bagi Ramon untuk beraksi. Posisi di papan klasemen pun makin kokoh.
Tapi ujian sebenarnya justru dimulai sekarang: bisakah mereka konsisten?
Laga tandang melawan Persebaya Surabaya awal Maret nanti akan jadi pengukur yang sesungguhnya. Di stadion yang penuh tekanan, momentum bisa runtuh dalam sekejap atau justru mengeras menjadi tekad.
Buat Ramon, ini peluang membuktikan bahwa gol-golnya bukan cuma kebetulan.
"Kami akan terus bekerja lebih keras," tegasnya.
Optimisme yang sederhana, tapi penuh beban.
Sementara Bandung merayakan kebangkitan, cerita di Makassar agak lain. Alex Tanque masih jadi ujung tombak PSM. Secara statistik, enam gol dari 17 laga itu bukan angka yang buruk, malah terbaik di tim. Tapi angka lain bercerita berbeda.
Dari 30 tembakan, 16 di antaranya melenceng. Itu yang terbanyak di skuad Pasukan Ramang. Statistik itu menggambarkan paradoks: aktif dan agresif, tapi kurang klinis di momen penentu.
Di lapangan, peran Alex sebenarnya tetap vital. Ia menarik perhatian bek lawan, membuka ruang untuk kawan. Masalahnya cuma satu: sentuhan akhir. Itu momen sepersekian detik yang membedakan striker tajam dan yang lagi buntu. Dan fase seperti ini lebih sering soal mental daripada teknik belaka.
Striker hidup dari kepercayaan diri. Saat gol mandek, setiap peluang terasa berat, setiap keputusan diwarnai keraguan.
Yang ironis, dukungan untuk Alex sebenarnya ada. Victor Luiz, bek sayap itu, sudah menyumbang lima assist dan rajin menciptakan peluang. Yuran Fernandes di belakang juga solid. Fondasi tim sebenarnya kokoh.
Artinya, persoalan PSM bukan pada cara mereka membangun serangan, tapi pada cara mereka menyelesaikannya. Mereka cuma kurang tajam.
Dua "Tanque", dua jalan cerita. Julukan yang sama, yang artinya "tank", identik dengan kekuatan dan ketangguhan. Tapi musim ini menunjukkan betapa nasib bisa berjalan tak terduga.
Ramon sedang di fase naik, di mana segalanya terasa mudah. Alex ada di fase sebaliknya, di mana kerja keras belum berbuah manis. Perbedaannya? Mungkin cuma satu gol.
Dan dalam dunia striker, satu gol bisa mengubah segalanya: suasana hati, performa, bahkan nasib sebuah tim di papan klasemen.
Putaran kedua kompetisi akan jadi babak penentuan. Bisakah Ramon pertahankan momentumnya? Atau justru Alex yang bangkit dan mengubah masa sulitnya jadi titik balik?
Sepak bola selalu menyisakan ruang untuk kejutan. Bagi kedua "Tanque" ini, cerita musim ini jelas belum selesai ditulis.
Artikel Terkait
Kurniawan Minta Maaf Usai Timnas U-17 Takluk dari Malaysia
Mantan Kiper Arsenal dan Austria, Alex Manninger, Tewas dalam Kecelakaan Kereta Api
Nathan Tjoe-A-On Kembali Bermain Usai Kasus Paspor, Willem II Raih Kemenangan
Pelatih Persija Ingatkan Konsistensi Jadi Kunci Kejar Gelar Juara