Di sisi lain, perbincangan tentang bek produktif tentu tak bisa mengabaikan satu nama: Yuran Fernandes.
Sang kapten PSM Makassar ini adalah contoh bek klasik yang mendominasi. Statistiknya bicara keras: 16 gol dan 8 assist dari 107 pertandingan resmi. Angka yang fantastis untuk seorang pemain bertahan.
Lahir di Cape Verde tapi dibesarkan di Portugal, Yuran membawa mentalitas dan kekuatan fisik khas Eropa. Sebelum hijrah ke Makassar pada 2022, ia membuktikan diri di delapan klub berbeda di Portugal. Kini, ia bukan sekadar pemain asing. Ia adalah pemimpin, kapten, dan simbol kebanggaan bagi Juku Eja.
Jadi, kalau kita bandingkan, sebenarnya kita melihat dua gaya kepemimpinan yang berbeda.
Jordi Amat itu tipenya tenang, taktis, lebih mengandalkan kecerdasan membaca permainan. Ia seperti arsitek yang mengatur dari belakang. Sementara Yuran Fernandes lebih garang, dominan di udara, dan menjadi ancaman mematikan setiap kali ada bola mati. Ia adalah benteng sekaligus palu godam.
Lantas, siapa yang lebih baik?
Dari segi konsistensi produktivitas, Yuran masih unggul. Tapi musim 2025/2026 ini adalah cerita tentang kebangkitan Jordi Amat. Ia membuktikan bahwa pengalaman dan kemampuan beradaptasi adalah kombinasi yang berbahaya.
Dengan sisa 11 laga di Super League, satu pertanyaan menggantung: Mungkinkan musim debutnya di Persija justru menjadi musim terbaik sepanjang karier Jordi Amat?
Kalau iya, maka panggung persaingan bek asing paling berpengaruh di Indonesia tak lagi didominasi satu nama. Persaingan diam-diam mereka, baru saja dimulai.
Artikel Terkait
PSS Sleman Genjot Persiapan Hadapi Laga Krusial Kontra Persela Lamongan
Persib Berangkat ke Surabaya dengan Modal Kemenangan Telak 5-0
Veda Ega Pratama Catat P8 di Sesi Latihan Moto3 Thailand di Lintasan Basah
Liverpool Ajukan Tawaran €100 Juta untuk Eduardo Camavinga